KARET ALAM

Karet Alam dan Bau di Pabrik Karet

1. Karet Alam

1.1 Sejarah karet Alam

Karet alam pertama kali ditemukan ketika Colombus pada tahun 1493 melihat seorang anak penduduk asli pulau Haiti sedang bermain bola hitam yang terbuat dari getah.

Setelah itu,

Thn 1763 : Mack berasal dari Perancis membuka jalan bagi pemakaian karet, dengan menemukan bahwa karet dapat dilarutkan dalam eter dan lemak terpena.

Thn 1770 : Frestry berasal dari Inggris menemukan bahwa karet dapat digunakan sebagai penghapus yang diberi nama rubber (berasal dari “rub”).

Thn 1803 : Dibangun pertama kali pabrik karet yang memproduksi ban karet dan pipa karet di Perancis.

Thn 1819 : Seorang manager pabrik karet di London menemukan mesin pemintal benang yang terbuat dari karet.

Thn 1823 : Macintos, Glasgow membuat dan memasarkan jas hujan yang terbuat dari kain yang dilapisi cairan atau larutan karet yang telah dilarutkan dalam pelarut.

Thn 1839 : Good year dari USA menemukan bahwa karet dapat mengeras bila dicampur dengan sulfur.

Thn 1846 : Han Cock menemukan teknik vulkanisir. Dari penemuan ini semakin berkembanglah pemakaian karet. Tetapi karena bahan baku getah karet diperoleh dari daerah Amazon, dimana suplainya tak sesuai dengan permintaan, maka pohon karet mulai ditanam dan dikembangkan di Inggris.

Thn 1876 : Weeckam berasal dari Inggris membawa pulang 70.000 benih tanaman Hevea dari Brazil dan ditanam di kebun Raya London. Hasil dari pengembangan budi daya tersebut dikirim ke Malaysia, Ceylon, dan Singapura.

Thn 1888 : Air land, Dun Lopp berhasil memasang ban berisi udara pada sepeda. Sejak saat itu menjadi terkenal dan popular.

Thn 1905 : Karet yang tumbuh di sekitar aliran Amazon tidak dibudidayakan dan dikontrol seperti perkebunan karet saat ini. Karena pengambilannya dibatasi dan pengambilan getah karetnya dibatasi pula, pedagang menjual dengan harga tinggi. Untuk menyelesaikan masalah itu, produksi karet dialihkan ke perkebunan di Asia Tenggara.

Abad 20 : Sejak ditemukannya mobil, permintaan akan karet mengalami lonjakan, karet alam menjadi benda langka. Sebagai gantinya akhirnya ditemukanlah karet sintesis.

1-2. Macam macam pohon karet

Tumbuhan yang mengandung elemen karet alam dalam getahnya ( lateks , poly isopuren ), di dunia ini ada banyak dan diperkirakan lebih dari 400. Di dalam getah putih yang keluar dari tanaman dandelion dan pohon ara pun mengandung elemen karet alam.

Diantara tanaman karet liar ada yang dapat hidup di daerah kering mulai dari daerah hangat sampai dingin, namun pusat daerah pertumbuhan tanaman karet adalah di daerah katulistiwa dan lembab. Saat ini, getah yang digunakan sebagai bahan baku karet alam dunia berasal dari tanaman Hevea Brasiliensis. Biasanya, bila dikatakan karet alam, maka yang dimaksud adalah Brasiliensis, sedangkan karet yang diambil dari tanaman selain Brasiliensis dibedakan dengan sebutan karet liar. Gambar 1-1 menunjukkan beberapa macam tanaman karet.

Hevea brasiliensis

Manihot glaziovili

Castilloa elastica

Tanaman ini berasal dari daerah Amazon. Karena dikirim dari pelabuhan Para di muara sungai Amazon maka diberi nama Para Gomunoki (pohon karet Para). Pada tahun 1976 berhasil dikembangkan di P. Ceylon. Bila disebut karet alam maksudnya, adalah untuk tanaman karet paragomu ini.

Termasuk tanaman tingkat rendah yang berasal dari Brazil. Karet yang diambil dari tanaman ini disebut karet ceala. Kualitas tanaman ini satu tingkat lebih rendah dari karet hevea brasiliensis. Karena kebutuhan akan karet jenis ini tidak terlalu banyak maka tanaman ini tidak dikembangbiakkan.

Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah. Karena ertumbuhan kembali kulit pohon yang telah digores berlangsung lambat, maka getah pohon ini hanya dapat diambil 4~5 kali setahun. Bila pengambilan getahnya terlalu sering dilakukan, dapat menyebabkan matinya tanaman ini.

Ficus elastica

Landophia kirkii

Urceola elastica

Berasal dari daerah Indonesia dan Malaysia. Karena getahnya termasuk jenis yang kompleks, maka pengambilannya cukup sulit dan jumlahnya pun sedikit. Saat ini dibudidayakan sebagai tanaman foliage (dedaunan).

Tanaman ini berasal dari Afrika dan termasuk tanaman merambat yang dapat membesar. Getahnya dapat diambil baik dengan cara memotong atau menebang pohonnya kemudian dikuliti dan diambil getahnya. Tanaman yang termasuk satu species dengan tanaman ini dan getahnya dapat diambil antara lain adalah L. Owariensis, L. Klainei, L. Heudelotti, dan L. Ugandesis.

Termasuk tanaman merambat yang terdapat di Malaysia dan Sumatra.

Sumber : Pt. Missi Belt [Tanaman Karet dalam Kehidupan Kita]

Gambar. 1-1 Macam-macam tanaman karet (bag.1)

Palaguium gatta

Achras zapota

Dyera Costulata

Tanaman yang berasal dari Malaysia. Lateks palaguium (katapachi lateks) akan mengeras bila terkena udara, karenanya pengambilannya dilakukan dengan mengambil dan mengumpulkan daun daun dan batangnya. Karet ini sangat stabil terhadap air, sehingga banyak digunakan untuk kabel di bawah laut, tetapi kini pemakaiannya diganti dengan resin sintesis. Juga digunakan sebagai bahan kulit bola golf bagian luar.

Berasal dari Amerika Tengah. Getah susu yang diambil dengan cara menorehkan goresan pada kulit pohon ini. Digunakan sebagai bahan baku permen karet. Tanaman ini tidak dapat dibudidayakan di perkebunan. Sehingga sebagai ganti bahan dasar permen karet digunakanlah resin sintesis.

Lateks yang berasal dari Malaysia ini disebut Delton. Mirip dengan lateks palaguium (katapachi). Digunakan sebagai bahan dasar permen karet dan bahan perekat untuk ikat pinggang.

Accacia senegal

Funtumia elastica Merupakan tanaman tingkat tinggi yang dapat tumbuh di daerah tropis bagian barat Afrika. Sebelum hevea brasiliensis dibudidayakan, tanaman ini terlebih dahulu telah dibudidayakan di daerah Asia Tenggara secara besar-besaran. Lateks ini memiliki kestabilan yang baik, dan dapat disimpan lebih lama. Karet futumia lebih lunak dari karet hevea brasiliensis, dan bila ditarik /diulurkan warnanya menjadi transparan sehingga bisa dibedakan dari hevea brasiliensis.

Parthenium Argentatum

Termasuk tumbuhan semak yang hidup hanya setahun dan berasal dari Meksiko Utara. Tidak memiliki pembuluh getah. Karetnya terkandung dalam bagian batang, akar, dan daun. Setelah getahnya diambil (dari pohonnya) lalu dikeringkan dan dihancurkan lalu didihkan dalam air, maka karetnya akan mengapung di permukaan. Jumlah kandungan getah tanaman ini tinggi, namun karena karet ini lengket dari segi bisnis tidak terlalu berharga.

Tanaman tingkat rendah ini berasal dari pantai barat Afrika. Karena getahnya mudah mengeras secara alami ketika diambil dari pohonnya maka dinamakan Arabia gomu (karet Arabia). Pada umumnya karet mengandung hydro karbon, tetapi Karet Arabia ini tersusun dari karbonhidrat sehingga mudah larut di dalam air. Digunakan dalam

pembuatan berbagai jenis tinta, perekat perangko, zat yang membantu penbuatan tablet dan pil.

Mimusops Balata

Berasal dari Amerika Selatan, getah yang diambil dari tanaman ini berwarna merah dan dapat lumer bila dipanaskan (termo revensible). Sama seperti karet katapachi digunakan terutama untuk kulit luar bola golf karena bersifat tahan air.

Astragalus Gumifer

Tanaman kecil ini berasal dari Asia kecil Greek. Dinamakan Torogonta gomu. Pemakaian dari karet ini sama dengan karet Arabia.

Sumber : Pt. Missi Belt [Tanaman Karet dalam Kehidupan Kita]

Gambar 1-2 Macam-macam tanaman karet (bag.2)

2. Kondisi Karet Dunia

2.1 Pembagian Karet

Karet dibagi menjadi 2 yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet alam dibuat dari getah pohon karet yang diproses, sedang karet sintesis dibuat dari bahan baku minyak tanah. Karena memiliki kualitas yang lebih baik otomatis karet alam lebih mahal, Namun, prosentase pemakaiannya mengalami perubahan tergantung dari nilainya. Misalnya pada ban, biasanya menggunakan bahan dari karet alam dan karet sintesis dengan perbandingan 55 : 45. Bila karet alam mengalami kenaikan harga, maka dapat diganti dengan karet sintesis sekitar 5%, dan bila karet sintesis pun mengalami kenaikan harga akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, maka jumlah pemakaian karet alam yang diperbesar.

Ø Karet Alam

Karet alam diperoleh dari getah resin karet (lateks karet alam) yang disebut Hevea Brasiliensis yang berasal dari daerah Amazon dengan cara penggumpalan dan pengeringan. Tergantung dari cara memprosesnya, secara umum karet alam dibagi menjadi 3. Daerah penghasil karet alam terbesar yang memproduksi 70% dari jumlah seluruh produksi karet dunia adalah Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Lateks :

Merupakan karet alam yang awet disimpan yang dibuat dengan cara menambahkan anmonia ke dalam getah karet. Bila akan dikirim biasanya dikentalkan terlebih dahulu dengan mesin sentrifugal hingga kekentalannya mencapai 60%. Digunakan untuk sarung tangan karet, zat perekat, benang karet, alat-alat kedokteran, dan lain-lain.

RSS : karet alam yang diperoleh dengan cara memasukkan lateks ke dalam asam untuk dipadatkan, kemudian di panaskan dan diasapkan. Digunakan sebagai bahan baku produksi ban, dan tube.

TSR : Karet yang telah digumpalkan kemudian dihaluskan, setelah itu dikeringkan dengan pemanasan. Sama seperti dengan RSS, TSR digunakan sebagai bahan baku produksi ban, dan tube. Tergantung dari negara yang memproduksi, ada SMR ( Produk Malaysia ), SSR ( Produk Singapura ), SIR ( produk Indonesia ), TTR ( Produk Thailand ) dan lain lain.

Ø Karet Sintetis

Karet sistetis sengaja dibuat sedemikian rupa mirip dengan karet alam. Ada banyak macamnya yaitu Karet Isopuren ( IR ), Karet Stiren Butadien ( SBR ), Karet Butadien ( BR ), Karet Khloropuren ( CR ), Karet Nitril ( NR ), Karet BUTIL ( IIB ), Karet etilen propilen ( EPDM ), Karet Uretan ( AU, EU ), Karet silicon ( VMQ, FVMQ ), Karet Acril ( ACM ) dan lain lain.

Karet sintetis yang paling banyak diproduksi ada 3 jenis yaitu karet isopuren, karet stiren butadiene, dan karet butadiene. Bila digabung dengan karet alam, prosentase karet sintetis ini meliputi 80 %. Karet tersebut terutama digunakan sebagai bahan baku pembuatan ban.

2-2. Suplai karet alam

Karet alam diproduksi di daerah katulistiwa seperti Thailand, Indonesia, Malaysia, India, Vietnam, Srilanka, Liberia, Nigeria dan lain lain. Negara terbesar penghasil karet adalah Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Getah karet dapat diambil sepanjang tahun, tetapi jumlah produksi getah pada musim panas ( April ~ September ) dan musim gugur ( Februari ~ April ) menurun, sedangkan pada musim hujan ( Oktober ~ Januari ) mengalami peningkatan. Namun, bila hujan turun dengan deras maka pengambilan getah pun sulit dilakukan dan kualitas getah pun menurun. Getah pohon karet baru dapat diambil setelah pohon karet berumur 5~7 tahun. Karena itu meski harga karet melonjak, jumlah produksi tidak dapat meningkat, juga meski harga karet menurun sekalipun, jumlah produksi karet tidak dapat diturunkan. Dengan kondisi seperti itu, berarti jumlah produksi karet tidak berubah meski harga karet berubah.

Jumlah produksi karet dunia tahun 2005 ditunjukkan pada tabel 2-1 dan Gambar 2-1, perubahan jumlah produksi karet alam ditunjukkan pada Gambar 2-2.

Tabel 2-1 Jumlah produksi karet di beberapa negara tahun 2005 (ribu ton/y)

Negara

Thailand

Indonesia

Malaysia

India

China

Vietnam

Lainnya

Jumlah produk

2.832,5

2.270,8

1.126,0

771,5

428,0

435,5

764,7

Prosenta

se produk

32,8

26,3

13,0

8,9

5,0

5,0

8,9

Sumber referensi : Data statistik Seminar Karet Internasional ( IRSG )

Gambar 2-2 Perubahan produksi karet alam

2-3. Permintaan karet alam

Permintaan terhadap karet alam banyak dipengaruhi oleh factor jumlah industri mobil. Trend industri mobil Jepang dan Amerika memberi dampak yang besar bagi perminataan terhadap karet alam. Tetap pengaruh Cina pun tidak dapat dianggap sebelah mata sejak perkembangan industri mobil dalam negerinya yang meledak.

Bersamaan dengan perkembangan industri mobil, permintaan terhadap karet alam terus mengalami peningkatan sejak tahun 1975, namun sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1997, permintaannya pun mengalami ketersendatan. Tetapi pada sekitar pertengahan tahun 2000 terutama sejak bertambahnya jumlah industri mobil Cina, permintaan terhadap karet alam pun menunjukkan adanya peningkatan.

Gambar 2-2 dan Gambar 2-3 menunjukkan perubahan permintaan dan jumlah produksi karet alam akhir akhir ini. Sejak tahun 1999 jumlah produksi karet alam hanya sedikit melebihi permintaan, tetapi sejak tahun 2000, permintaan hanya melebihi sedikit jumlah produksi karet alam, hal tersebut menunjukkan adanya kekurangan suplai akan karet alam. Penyebab kondisi tersebut diperkirakan karena pertambahan jumlah produksi mobil di Cina, dimana kondisi seperti itu pun diperkirakan akan berlanjut terus.

Tabel 2-2 Permintaan danjumlah produksi karet dunia ( satuan :103 ton / tahun )

Tahun

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Karet alam

Produksi

6,070

6,440

6,470

6,820

6,870

6,766

7,260

7,343

7,989

8,647

8,629

permintaan

5,950

6,110

6,460

6,580

6,650

7,314

7,222

7,545

7,967

8,358

8,756

Karet sintetis

produksi

9,480

9,740

10,080

9,880

10,380

10,819

10,485

10,882

11,379

11,988

12,012

Permintaan

9,270

9,590

10,000

9,870

10,260

10,765

10,254

10,725

11,394

11,856

11,939

Sumber referensi : IRSG, Rubber Statissical Bulletin Mar/Apr 2006

Gambar 2-3 a Jumlah produksi dan permintaan karet alam

Gambar 2-3 b Jumlah produksi dan permintaan karet sintetis

3. Proses pembuatan karet

3-1 Pengambilan getah karet

Pohon Hevea Brasiliensis dapat diambil getahnya setelah berumur 5 ~ 7 tahun ( diameter sekitar 17 cm ). Ketika mencapai umur kira kira 14 tahun, produksi getahnya mencapai titik tertinggi, dan setelah itu akan mengalami penurunan. Dikatakan bahwa umur sebuah pohon karet bisa mencapai sekitar 30 tahun. Dengan demikian , getah pohon karet dapat diambil dalam kurun waktu selama 20 tahun.

Cara mengambil getah karet adalah dengan menorehkan luka di kulit pohon karet ( lihat tapping, Gambar 2-3 (c) ) , kemudian getah yang keluar dimasukkan ke dalam wadah kecil yang telah disiapkan ( lihat Gambar 2.3.(b) ). Kemudian asam sulfat dan asam formiat dimasukkan ke dalam wadah tersebut untuk menggumpalkan getak karet ( lihat Gambar 2-3 (d) ) .

Pengambilan getah karet dengan cara tapping pada 5 tahun pertama dilakukan dengan cara menorehkan goresan pada bagian setengah lingkaran pohon karet yang akan diambil getahnya. 5 tahun berikutnya pengambilan getah karet dilakukan pada bagian sebelahnya. Bagian pohon yang kulitnya telah ditoreh goresan akan tumbuh seperti semula. Proses tapping ini dilakukan 2 kali secara berulang, sehingga getah karet dapat diambil dalam tempo 20 tahun ( lihat Gambar 3-1 )

0~5 thnpenyadapan
6~10 thnpenyadapan
11~15 thnpenyadapan
16~20 thnpenyadapan
Batang Karet

Gambar 3-1 Metode tapping getah karet

(a) Perkebunan karet nan luas di kiri kanan jalan raya

(b) Pemandangan pengambilan getah karet

(c) Tapping getah karet

(d) Pengumpulan getah karet

Gambar 3-2 Perkebunan karet dan pengambilan getah karet

3-2. Elemen elemen getah karet

Getah karet merupakan cairan berbentuk koloid yang mengandung zat zat seperti lateks, tepung, lemak, protein dan lain lain. Molekul molekul karet pada siang hari terbentuk di bagian daun tumbuhan karet, dan bila hari menjelang sore, getah dikirim ke bagian kulit pohon dalam bentuk polimer. Proses pengambilan getah karet dilakukan pada pukul 5 sampai pukul 8 pagi hari, karena getah karet berkumpul pada pagi hari.

Getah dari pohon Hevea Brasiliensis ( lateks ) dapat diperoleh sekitar 200 ~ 400 ml, dan selain mengandung isopuren, ia juga mengandung bermacam macam elemen lainnya. Elemen elemen tersebut dapat dilihat pada tabel 3-1 di bawah ini.

Tabel 3-1 Elemen getah Hevea Brasiliensis

Elemen

Prosentase kandungan terhadap getah

( % )

Prosentase kandungan terhadap karet kering ( % )

Air

59,66

-

Elemen karet

35,62

88,28

Protein

2,03

5,04

Asam lemak

1,65

4,10

Abu

0,70

1,74

Glukosa

0,34

0,84

Gambar 4-1 Perbandingan elemen elemen getah karet

Gambar 4-1 Perbandingan elemen elemen getah karet

4. Proses pembuatan karet

Tergantung dari proses pembuatannya, karet alam bisa dibagi menjadi 4 macam seperti disebut di bawah ini. Diantaranya yang paling banyak dibuat adalah smoked sheet yakni sekitar 80 % dari keseluruhan. Industri industri yang tergabung dalam Asosiasi Karet Indonesia (GAPKINDO ) pun hampir sebagian besar memproduksi smoked sheet. Alur pembuatan smoked sheet dapat dilihat pada gambar 4-1. Sedangkan Gambar 4-2 menunjukkan foto proses pembuatannya.

[ Macam macam lembaran karet berdasarkan cara pembuatannya ]

Smoked Sheet Setelah karet digumpalkan dengan memasukkan lateks ke dalam asam sulfat dan asam formiat, karet dihaluskan ( dihancurkan , lalu dilakukan proses pengadukan dan pencampuran dengan air berulang ulang dan dilebarkan hingga membentuk lembaran. Terakhir dikeringkan, dipanaskan lalu diasapkan dan diberi warna.

Klep karet yang menggumpal dicuci dengan air ayng cukup, lalu dikeringkan dengan angin panas. Proses pembuatan ini diusahakan agar warna karet tidak berubah.

Air Dry Sheet Produk antara klep dan smoked sheet

Super prosessing Rubber

Produk dengan hasil pemrosesan yang lebih baik setelah menambahkan zat pembentuk pada lateks.

Sumber bau

export

Timbul bau生

Raw Material field30m × 50m
cutting 機

IPAL Lumpur aktif

P
scrubberバ-
Menara blangket30m×70m×30mH
Gas bau
crusher

Hammer mill

Bak lengket

Rollerル
Air Limbah
Outlet
dryer
press
packing
roller
rollerル
blangketット
balance
kontenerナ-
Kolam air baku
河 川 水
Raw material

Dryer exhaust

Sumber Bau源
Sumber air limbah

Gambar 4.1 Alur pembuatan Smoked Sheet ( pabrik karet)

(A) Pengangkutan bahan baku ke pabrik karet

(B) pemeriksaan penerimaan bahan baku

(C) Pencucian karet dengan pengadukan menggunakan air

(D) Pencucian ( lembaran karet ) blanket cara Mangel

(e) Blangket Tower (natural drying)

(g) Heat air dyer

(f) Pencucian sebelum kering dari blangket tower

(h) Product inspection, balance, press

Gambar 4-2 (a~h) Foto-foto proses produksi smoked sheet karet (pabrik karet)

5. Bau di pabrik penghancur karet

Ada tiga tempat di pabrik karet yang menjadi sumber penyebab timbulnya bau yaitu “tempat penyimpanan bahan bakar”, “menara blanket”, dan “gas buangan mesin pengering”, seperti tampak pada gambar 4.1 yang menunjukkan alur pembuatan karet. Bau di menara blanket dan tempat penyimpanan, merupakan bau yang timbul karena pembusukan tepung dalam getah karet yang utamanya tersusun dari gula, protein dan lain-lain, serta sedikit asam lemak tingkat rendah, hidrogen sulfida, metil merkaptan, anmomia , dan grup amin tingkat rendah bila bahan baku karet disimpan dalam waktu yang lama. Sedangkan bau pada “gas buangan mesin pengering” merupakan bau yang terjadi karena zat penguraian termal pada saat pemanasan dilakukan .

Seperti yang telah disebutkan dalam materi mengenai “Teori teknik pencegahan bau”, ada bermacam-macam metode untuk menghilangkan bau, dimana untuk menjelakan penganggulangan bau, harus dipilih system proses yang ekonomis, dan efektif, serta harus dilakukan survey mengenai volume gas, konsentrasi, dan spesifikasi zat bau yang diproses. Selain itu harus pula dipertimbangkan masalah mengenai kondisi dan tingkat penyebaran bau serta penyebaran bau itu sendiri ke area sekitar pabrik.

5.1 Bau yang timbul dan pembusukan getah karet

Bahan baku karet dikirim ke pabrik membutuhkan waktu selama 1 bulan. Sebelum sampai ke pabrik, protein gula dan tepung yang terdapat dalam getah karet mengalami pembusukan dan menebarkan bau busuk. Bau yang timbul dari dalam bahan baku karet dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan diduga dapat menimbulkan dampak tertentu. Selain itu, elemen bau dan zat campuran yang terkandung dalam bahan baku karet, pada saat dilakukan pencucian akan turut mengalir bersama dengan air limbah, sehingga menimbulkan bau yang kuat. Bila limbah tersebut langsung dibuang begitu saja ke sungai, tentu dapat menimbulkan komplain dari warga sekitar terhadap bau yang menyengat dan warna air sungai.

Meski zat bau jumlahnya hanya sedikit, ia tetap menyebarkan bau yang kuat. Karenya bila zat bau tersebut tertinggal sedikit saja di blanket setelah selesai proses pencucian, dapat menebarkan bau dari menara blanket.

Setelah pengeringan alami di menara blanket selesai, karet dimasukkan ke dalam mesin pengering angin panas untuk dikeringkan. Pada saat itu, ada sebagian dari karet yang terurai secara termal, sehingga menimbulkan bau khas karet. Untuk menghilangkan gas bau tersebut dilakukanlah proses dengan scrubber. Kondisi tersebut di atas bila dinyatakan dengan gambar akan tampak seperti gambar 5-1.

Raw material
Dalam getah karetstarch、protein
Timbul bahan berbau(penguraian anaerob)
Ekstrak bahanberbau
Waste water
Tdk berbauSO42-

H2O.CO2

NO3-,

NO2-→N2 Gas

Penguraian BOD,CODPenguraian bahan berbau

Penyadapan karet

R-NH2-SO4
R-NH2-COOH
R-CO-NH-R
(C6H12O6)n
Pengumpulan dan transporSekitar 1 bulan
H2S,CH3SH
CH3COOH,(CH3)2CHCOOH
(C2H5)3N(C2H5)2NH

(CH3)3N

NH3

sulfida
Asam organik
Group amin
Bahan bau
Pencucian karet
Outlet
Gambar 5-1 Timbulnya bau dipabrik karet

Raw material

field

Blangket tower
IPAL lumpuraktif
Bau menyebar
Bau menyebar
Bahan berbau tersisa
Bau menyebar
Heat air dryer
Gas berbau
スクラバー
exhaust
Press Bungkus
Market

5.2 Tempat penyimpanan bahan baku

5.2.1.Kondisi bau di tempat penyimpanan bahan baku

Setelah petani mengambil getah karet, kemudian getah tersebut dikirim dalam bentuk gumpalan ( setelah digumpalkan dengan asam formiat atau asam sulfat ) ke pabrik melalui pihak pengusaha karet. Butuh waktu hampir satu bulan untuk sampai ke pabrik karena harus melalui beberapa tangan yaitu, sejak dari pengambilannya ke bagian pengumpulannya, lalu ke bagian pengawetan, dan bagian pengiriman. Jadi : ketika bahan baku karet sampai di pabrik, kemungkinan besar zat-zat campuran dalam getah akan membusuk dan menebarkan bau. Setelah sampai di pabrik karet, bahan baku karet dikumpulkan di “tempat penerimaan bahan baku”, kemudian setelah diperiksa dan dipilah-pilah, barulah dikirim ke bagian proses produksi. Bila bau busuk di sekitar tempat penerimaan bahan baku menyebar ke luar pabrik, diperkirakan dapat menimbulkan gangguan yang tidak menyenangkan bagi penduduk sekitar.

Keadaan bau yang timbul di tempat penerimaan dan tempat pengawetan karet serta hasil pengukuran konsentrasi bau dapat dilihat pada gambar 5-2 dan tabel 5-2.

Timbul bau dari tumpukan bahan baku dan tanah serta air yg menempel, serta pada air dari dasar tumpukan

Ketika bahan baku di potong, dari bag dalam keluar bau yg menyengat, didalam raw material ini jg terdapat tanah dan air

Gambar 5-2 Kondisi Penumpukan Bahan Baku Yang Menimbulkan Bau

Dari hasil tabel 5.1 diperkirakan bahwa elemen-elemen utama bau yang timbul dari bahan baku karet adalah anmonia, grup amin, dan asam organik. Dan diperkirakan pula terkandung sedikit elemen-elemen bau seperti grup sulfida, hydrogen sulfida dan metil merkaptan.

Tabel 5.1 Hasil pengukuran bau di tempat penyimpanan bahan baku

pabrik karet (nilai rata-rata : ppm)

Nama pabrik

Tempat pengukuran

As.asetat

(asam org.)

H2S

CH3SH

NH3

( CH3 ) 3 N

( CH3 ) 2 NH

( C2 H5 )3N

KAPUAS BESAR

Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku

0,0

0,0

0,0

0,7

3,5

0,8

Tumpukan bagian atas bahan baku

0,1

0,0

0,0

5,8

2,6

2,7

KIRANA SAPTA

Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku

0,2

0,0

0,0

4,2

5,8

7,2

VIRGO

Tumpukan bagian atas bahan baku

0,0

0,0

0,0

32,4

64,0

22,0

TELUK LUAS

Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku

,0,0

0,0

0,0

4,0

1,6

1,8

ABAISIAT RAYA

Tumpukan bagian atas bahan baku

0,0

0,0

0,0

1,7

2,5

1,6

BATANG HARI BARISAN

Tumpukan bagian atas bahan baku

1,5

0,0

0,0

0,8

2,4

1,4

LEMBAH KARET

Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku

0,0

0,0

0,0

0,7

1,5

2,3

ANEKA BUMI PRATAMA

Tumpukan bagian atas bahan baku

0,0

0,1

0,2

0,0

0,0

0,8

Nilai rata rata

0,2

0,0

0,0

5,6

9,3

4,5

Pada gambar 5.3 dan 5.4 tampak nilai hasil pengukuran dengan menggunakan “sensor bau PX-329″ (selanjutnya disingkat menjadi nilai berdasarkan PX-329). Nilai pengukuran berdasar PX-329 tersebut merupakan nilai yang dapat dikelompokkan ke dalam konsentrasi bau yang selaras dengan indra penciuman manusia. Nilai itu menunjukkan apakah gas bau tersebut equivalen dengan konsentrasi kelipatan nilai berdasarkan indra bau.

Bila hasil pengukuran di beberapa tempat dalam pabrik karet disusun, maka akan tampak seperti pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Hasil pengukuran bau di pabrik karet menurut PX-329

Hasil pengukuran di pabrik B

Hasil pengukuran di pabrik H

Tempat pengu

kuran

Langsung setelah keluar dari mesin pengering

Penghancur

Angin di atas bahan baku

Tempat penyim

panan bahan baku

Bawah angin tempat penyim

panan bahan baku

Tempat lain

Angin di atas bahan baku

Tempat penyim

panan bahan

baku

Bawah angin tempat penyim

panan bahan baku

Tempat lain

Berdasar PX-329

320~550

800~1400

90~100

340~400

110~180

45~65

60~90

200~220

120~135

30~35

Tabel 5-3 Nilai pengukuran bau berdasarkan PX-329 dan standar pengontrolan berdasarkan experimen tiap fungsi

Standar pengontrolan berdasarkan eksperimen Jepang

Hasil pengukuran di pabrik B

Hasil pengukuran di pabrik H

Mesin pengering

Penghancur

Tempat bahan baku

Tempat lain

Tempat bahan baku

Tempat lain

Metode indikator

Indeks bau

Konsentrasi bau

PX-329

PX-329

PX-329

PX-329

PX-329

PX-329

Bau yang timbul di lubang pembuangan

30~40

300~1000

320~550

340~400

340~400

100~170

200~220

40~60

Area dataran

10~18

10~30

-

-

110~180

45~65

120~135

30~50

Catatan : 1) Nilai PX-329 sebanding dengan konsentrasi bau.

2) Konsentrasi bau menunjukkan nilai kelipatan saat gas bau diencerkan dengan gas tak berbau sampai baunya hilang.

3) Nilai logaritma dari konsentrasi bau bila dikali dengan 10 disebut dengan indeks bau.

Indeks bau = 10 kali log ( konsentrasi bau ).

5.2.2. Pengukuran konsentrasi bau di tempat penyimpanan bahan baku

Bila metode pengontrolan bau berdasarkan eksperimen di Jepang dibandingkan dengan nilai hasil pengukuran dengan menggunakan PX-329, hasilnya akan tampak pada tabel 5.3. Nilai pengukuran berdasarkan PX-329 di tempat sumber bau seperti di tempat penyimpanan bahan baku dan mesin pengering sama dengan standar gas buang dari lubang pembuangan Jepang.

Tetapi, nilai pengukuran di lingkungan dataran di bawah angin tempat penyimpanan bahan baku bila dibandingkan dengan standar pengontrolan di lingkungan dataran tampak berada pada level yang cukup tinggi. Jadi, untuk mengatasi bau udara dengan konsentrasi tinggi dari tempat penyimpanan bahan baku, perlu dipikirkan suatu penanganan yang baik.

Selain itu, nilai pengukuran dengan PX-329 di lingkungan dataran yang tak terkena langsung oleh efek bau dari tempat penyimpanan bahan baku, standar pengontrolannya sedikit menurun, mungkin tak terlalu menimbulkan masalah.

5.3 Bau di Menara Blanket

5.3.1 Menara Blanket

Karet alam akan melewati proses pencucian di beberapa mangel setelah dihancurkan, kemudian dibentuk menjadi lembaran-lembaran. Lembaran-lembaran tersebut dibawa ke blanket dalam bentuk gulungan atau dilipat. Kemudian digantung dari bagian atas menara, dan dikeringkan dengan diangin-anginkan selama kurang lebih 10 hari. Menara blanket merupakan bangunan yang sangat besar seperti tampak pada gambar 5-5 di bawah ini. Besar menara blanket berbeda pada tiap pabrik, biasanya besarnya seperti berikut :

Kapuas Besar

Aneka Bumi Pratama

Lebar 20~30 m Panjang 70~80 m Tinggi 15 ~30 m Volume 24.000 ~63.000m3

Gambar 5-5. Menara Blangket di Pabrik Crum Rubber

5.3.2. Bau di menara blanket

Hasil detail pengukuran bau di menara blanket tertulis dalam data tambahan. Hasil tersebut bila disajikan dalam bentuk tabel tampak pada tabel 5-4 dan 5-5.

Elemen bau utama di menara blanket sama dengan yang terkandung dalam bahan baku karet yaitu anmonia, grup amin, dan asam organik. Untuk mencuci elemen-elemen bau dalam bahan baku karet tersebut pada proses pencucian, merupakan hal yang sangat sulit.

Tabel 5-4 Hasil pengukuran bau dalam menara blanket ( nilai rata-rata : ppm )

Nama pabrik

Tempat pengukuran

As.asetat

(asam org)

H2S

CH3SH

NH3

( CH3 ) 3 N

( CH3 ) 2 NH

(C2 H5 )3N

KAPUAS BESAR

Tempat dengan bau kuat

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

KIRANA SAPTA

Tempat dengan bau kuat

0,8

0,0

0,0

0,2

1,0

0,8

VIRGO

Tempat dengan bau kuat

2,0

0,0

0,0

0,0

0,6

0,2

TELUK LUAS

Tempat dengan bau kuat

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

ABAISIAT RAYA

Tempat dengan bau kuat

0,0

0,0

0,0

0,3

0,0

0,8

BATANG HARI BARISAN

Tempat dengan bau kuat

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

LEMBAH KARET

Tempat dengan bau kuat

0,0

0,0

0,0

1,0

1,5

1,0

ANEKA BUMI PRATAMA

Tempat dengan bau kuat

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

Nilai rata rata

0,5

0,0

0,0

0,2

0,4

0,5

Tabel 5-5. Distribusi konsentrasi bau dibagian dalam blanket

( nilai pengukuran bau dasar PX-329)

Nama Pabrik

Tempat pengu

kuran

Laju

rata rata

m/detik

Rata rata konsnetrasi bau

Nama Pabrik

Tempat pengu

kuran

Laju

rata rata

m / detik

Rata rata konsnetrasi bau

total

pusat

total

pusat

KIRANA SAPTA

5F

3,0

14

20

HOK TONG

(Palembang)

3F

0,8

170

201

4F

2,3

11

27

2F

1,0

115

139

3F

1,8

42

59

1F

1,1

113

121

2F

1,0

94

120

HOK TONG

(Palembang)

3F

1,1

78

83

1F

0,7

91

97

2F

1,0

81

109

1F

0,5

142

203

Dari distribusi bau di menara blanket seperti tampak pada tabel 5-5, tampak adanya kecenderungan seperti berikut.

[ Kecenderungan timbulnya bau di menara blanket]

(1) Tempat yang kecepatannya tinggi, sifat alirannya baik,konsentrasi bau rendah.

(2) Bagian tengah menara, udaranya berkumpul, konsentrasi bau tinggi.

(3) Angin di bagian atas menara diperkirakan arusnya kuat.

(4) Konsentrasi bau di tempat pengeringan sejak dilakukannya pengeringan sampai hari ke tiga tinggi.

(5) Tempat yang proses pengeringannya berlangsung lancar, konsentrasi baunya rendah

5-4. Gas buang dari mesin pengering anginpanas

5-4-1. Mesin Pengering angin panas

Setelah karet dikeringkan secara alami di menara blanket, kemudian karet dipanaskan dengan mesin pengering angin panas dan dibentuk menjadi smoked sheet yang memiliki sifat elastisitas tinggi ( dapat mengerut dan merenggang ). Bahan karet tersebut dipanaskan dengan suhu 120 ~ 145 °C dan menimbulkan bau khas karet yang terbakar. Sehingga bertambahlah jenis bau yang timbul dari gas buang tersebut. Struktur mesin pengering angin panas ditunjukkan Dalam mesin pengering angin panas dipasang 6 buah mesin blower di depan dan belakang, blower ventilai, blower-fan pendingin, fan sirkulasi dan lain lain. Hampir semua mesin blower tersebut merupakan produk buatan pabrik sendiri atau produk hasil reparasi. Bila tenaga motornya sudah lama, laju gas yang keluar dari mesin blower tidak terlalu jelas.

dalam gambar 5-6.

Konteneroutput
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
17
16
15
14
13
12
Kontenerinput
moisture0.6%
バ-ナ
バ-ナ
温度 120~145℃
suhu120~135℃
循環ファン
Exhaustblower
Recycle fan

Cooling

blower

Cooling

fan

Alur udara panas
Alur udara dingin
Moving spedd 8 ~ 11 min/Trolley
Production cap 2.5 t/hour

Gambar 5-6 Heat Dryer Diagram

Pada tahun 2001 ~ 2002, dilakukan survey actual mengenai pemakaian mesin pengering angin panas di beberapa buah pabrik. Hasilnya tampak seperti pada tabel 5-6. Nilai rata rata gas buang dari mesin pengering angin panas yang disurvey adalah : suhu 52,2 °C, tekanan statis 75,4 mmH2O, dan laju gas buang 277 m3 / menit.

Tabel 5-6 Hasil survey laju gas buang dan cara kerja mesin pengering angin panas tiap perusahaan

(1)

Nama pabrik

KAPUAS BESAR

VIRGO

KIRANA

SAPTA

Tanggal survey

01/26/02

10/31/02

10/30/02

Jumlah kontainer dalam mesin pengering

11 buah

24 buah

Jumlah tungku pemanas

1

3

Suhu pengeringan (°C)

120 ~ 135

126 ~ 165

Kapasitas pengeringan

( ton/jam)

5 ~ 6

6

Lubang pembuangan gas

No.1

No.2

No.1

No.2

No.3

Duct

No.1

No.2

No.3

Ventilasi

Diameter

cm φ

82.0

45.0

75.0

Daya

Hp

5

5

20

20

25

30

Jumlah

putaran

r.p.m

1,450

1,450

1,450

1,740

2,175

2,175

Talang

Ukuran

cm

65.2Φ

78 Φ

56.0 Φ

60.0 Φ

60.0 Φ

61.1 Φ

48.0 Φ

78.0 Φ

Luas

Permukaan

m2

0.334

0.478

0.314

0.360

0.283

0.293

0.181

0.478

Gas bau

Suhu

oC

34.5

36.0

37.5

46.0

76.0

55.0

Tekanan

Statis

mmH2O

112

45.9

337

306

168

3.1

2.0

2.0

Kecepatan

m/sec

9.5

13.5

7.7

15.2

16.4

30.0

16.0

11.3

Laju

m3/min

190

387

144

328

279

528

174

324

(2)

Nama pabrik

KIRANA SAPTA

TELUK LUAS

ABAISIAT RAYA

Tanggal survey

01/30/02

02/05/02

02/09/02

Jumlah kontainer dalam mesin pengering

24 unit

16 unit

10 unit

Jumlah tungku pemanas

3 unit

2 unit

1 unit

Suhu pengeringan (°C)

126 ~ 165

120 ~ 135

120~135

Kapasitas pengeringan

( ton/jam)

6

5 ~ 7

3 ~ 3.5

Lubang pembuangan gas

No.1

No.2

No.3

No.1

No.2

No.3

No.4

No.5

No.1

Ventilasi

Diameter

cm φ

82.0

45.0

75.0

Daya

Hp

20

25

30

20

20

15

20

10

10

Jumlah

putaran

r.p.m

1,740

2,175

2,175

1,100

1,200

1,100

1,200

1,800

Talang

Ukuran

cm

61.1 Φ

48.0 Φ

78.0 Φ

55.0 Φ

55.0 Φ

55.0 Φ

55.0 Φ

55.0 Φ

70.0 Φ

Luas

Permukaan

m2

0.293

0.181

0.478

0.303

0.303

0.303

0.303

0.303

0.385

Gas bau

Suhu

oC

46.0

76.0

55.0

37.0

108.3

68.7

49.3

32.0

40.0

Tekanan

Statis

mmH2O

3.1

2.0

2.0

0.7

7.1

30.6

40.8

71.4

19.4

Kecepatan

m/sec

30.0

16.0

11.3

4.7

13.0

21.0

14.0

20.3

13.0

Laju

m3/min

528

174

324

85

236

381

254

369

300

(3)

Nama pabrik

ANEKA BUMI PRATAMA

HOK TONG

BADJA BARU

MUARA KELINGI Ⅱ

平均値 1

Tanggal survey

02/15/02

02/20/02

02/23/02

02/21/02

Jumlah kontainer dalam mesin pengering

37 unit

17 unit

17 unit

inlet

Ekstruder

output

Ekstruder

output

Jumlah tungku pemanas

2 unit

1 unit

2 unit

2 unit

Suhu pengeringan (°C)

120 ~ 135

120~145

120~145

125~160

120~145

Kapasitas pengeringan

( ton/jam)

4.5

2.5

2.5

4

4.3

Lubang pembuangan gas

No.1

No.2

No.1

No.2

No.3

No.1

No.1

Ventilasi

Diameter

cm φ

72.5*2

72.5

Daya

Hp

15*2

15

Jumlah

putaran

r.p.m

1,500*2

1,500

Talang

Ukuran

cm

76.2 Φ

76.2 Φ

56.0 Φ

56.0 Φ

77.0 Φ

78.0 Φ

Luas

Permukaan

m2

0.456

0.456

0.314

0.314

0.465

0.478

0.344

Gas bau

Suhu

oC

32.7

41.0

54.0

56.0

63.5

50.0

52.2

Tekanan

Statis

mmH2O

6.0

0.5

70

180

250

330

75.4

Kecepatan

m/sec

5.5

9.0

13.0

11.8

8.3

4.9

14.1

Laju

m3/min

150

246

245

222

232

140

277

5-4-2. Bau dari mesin pengering angin panas

Hampir semua pabrik memproses gas bau yang dibuang dari mesin pengering angin panas dengan scrubber. Dan hampir seluruh scrubber merupakan alat yang disuplai sebagai fasilitas pelengkap mesin pengering sesuai dengan merek mesin pengering angin panas yang digunakan dan merupakan alat yang diprodukasi oleh perusahaan sendiri, sehingga tidak ada standar untuk kondisi operasi scrubber ( misalnya laju air sirkulasi, kehilangan tekanan, laju aliran udara, laju angin proses, dan lain-lain) serta efeknya terhadap penghilangan bau pun tidak jelas. Barulah pada tahun 2001 ~ 2002, dilakukan survey actual terhadap kondisi operasi scrubber, dimana hasilnya disajikan dalam tabel 5-7 dan tabel 5-8.

Elemen bau gas utama dari mein pengering angin panas yang terdeteksi merupakan zat hasil peruraian panas dari karet, adalah asam organik, anmonia, dan grup amin, serta sedikit hydrogen sulfida dan metil merkaptan. Nilai rata rata konsentrasi baunya berdasar pengukuran PX-329 sebesar 350, sehingga memiliki bau yang cukup kuat dan kemungkinan baunya dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan survey berkaitan dengan fungsi scrubber, konsentrasi bau, dan laju gas buang dari mesin pengering angin panas. Serta perlu juga dilakukan penelitian terhadap perkembangan efek proses dan kondisi operasional yang tepat.

Tabel 5-7 Hasil pengukuran gas buang dari mesin pengering angin panas tiap perusahaan

(1)

Nama pabrik

KAPUAS BESAR

VIRGO

KIRANA

SAPTA

Tanggal survey

01/26/02

10/31/02

10/30/02

Lubang pembuangan gas

-

No1

No2

No1

No2

No3

duct total

No1

No2

No3

Laju gas

m3/mnt

190

387

144

326

279

528

174

324

Konsentrasi gas bau

As-org

ppm

0,0

0,8

1,0

2,4

0,0

1,0

0,4

3,5

1,0

H2S

ppm

0,2

0,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

0,0

0,0

CH3SH

ppm

0,5

0,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,3

0,0

0,0

NH3

ppm

2,0

0,0

0,5

2,0

0,0

1,0

0,5

6,4

8,0

CH3 NH2

ppm

0,8

0,6

1,2

0,0

0,0

2,0

1,0

6,0

2,0

(C2H5) 2NH

ppm

1,5

1,5

1,0

0.0

0,0

1,7

1,5

4,0

3,0

Nilai berdasar PX-329

250

200

150

400

80

200

300

750

450

(2)

Nama pabrik

KIRANA

SAPTA

TELUK LUAS

ABAISIAT RAYA

Tanggal survey

10/30/02

02/05/02

02/09/02

Lubang pembuangan gas

-

No1

No2

No3

No1

No2

No3

No4

No5

No1

Laju gas

m3/mnt

528

176

324

85

236

381

254

369

300

Konsentrasi gas bau

As-org

ppm

0,4

3,5

1,0

0,0

0,0

1,2

0,0

0,0

0,0

H2S

ppm

0,1

0,0

0,0

0,2

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

CH3SH

ppm

0,3

0,0

0,0

0,2

0,0

0,0

0,0

0,0

0,2

NH3

ppm

0,5

6,4

8,0

0,0

0,8

1,0

0,1

0,2

0,0

CH3 NH2

ppm

1,0

6,0

2,0

0,0

0,5

1,2

0,3

0,5

0,0

(C2H5) 2NH

ppm

1,5

4,0

3,0

0,0

1,0

1,2

0,5

0,5

0,0

Nilai berdasar PX-329

300

700

450

150

180

450

150

120

80

(3)

Nama pabrik

ANEKA BUMI PRATAMA

HOK TONG

BAJA

BARU

MUARA KELINCI

Nilai rata rata

Tanggal survey

02/15/02

02/20/02

02/23/02

02/21/02

Lubang pembuangan gas

-

No1

No2

No1

No2

No3

No1

No1

-

Laju gas

m3/mnt

150

246

245

222

232

450

277

Konsentrasi gas bau

As-org

ppm

0,8

0,0

5,0

0,5

4,5

14,0

0,0

1,2

H2S

ppm

0,0

0,0

0,2

0,3

1,1

0,0

0,3

0,1

CH3SH

ppm

0,0

0,0

0,8

0,3

3,2

0,0

0,0

0,3

NH3

ppm

1,3

1,1

6,0

3,0

0,0

31,0

10,0

2,1

CH3 NH2

ppm

2,3

1,3

14,0

4,2

1,6

12,0

13,5

2,2

(C2H5) 2NH

ppm

1,2

1,2

7,3

6,8

0,0

19,0

11,0

1,8

400

450

800

650

400

1200

900

350

Tabel 5-8 Hasil pengukuran bau di bagian lubang masuk keluar mesin pengering angin panas

Nama pabrik

Tempat pengukuran

Asam org

H2S

CH3SH

NH3

CH3 NH2

(C2H5)2NH

KAPUAS BESAR

Lubang keluar mesin pengering

28,0

0,0

0,0

1,6

12,4

12,0

KIRANA SAPTA

Lubang keluar mesin pengering

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

Lubang ventilasi

4,8

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

VIRCO

Lubang masuk mesin pengering

2,0

0,0

0,0

4,8

3,8

3,4

Lubang keluar mesin pengering *

23,0

0,0

0,0

22,0

6,2

20,0

TELUK LUAS

Lubang keluar mesin pengering

1,0

0,0

0,0

0,8

1,8

1,2

ABAISIAT RAYA

Lubang masuk mesin pengering

2,2

0,0

0,0

4,0

3,0

4,0

BATANG HARI BARISAN

Lubang keluar mesin pengering

12,0

0,0

0,0

0,6

6,0

3,7

LEMBAH KARET

Lubang keluar mesin pengering **

21,0

0,0

0,0

50,0

0,4

26,0

ANEKA BUMI PRATAMA

Lubang keluar mesin pengering

0,0

0,0

0,0

0,0

0,2

0,0

Nilai rata rata total

9,4

0,0

0,0

8,4

3,6

7,2

Nilai rata rata ( kecuali * dan ** )

6,3

0,0

0,0

1,5

3,6

3,3

5 Tanggapan

  1. Dear Bapak Ediesen,

    Terima kasih untuk kesediaan bapak untuk berbagi informasi mengenai pengelolaan karet.

    Pak, kami berada di Jawa Timur, kebetulan memiliki sedikit lahan. Tertarik untuk tanam karet. Apakah kami bisa mendapatkan masukan dari bapak bagaimana untuk persiapan dan memulai perkebunan karet?

    Atas perhatian dan bantuannya, kami ucapkan banyak terima kasih.

    Salam,
    Djony Tannady
    Email: djony_t@indo.net.id
    HP: 08123115878

  2. Saya pernah mendengar untuk menstimulasi getah lateks pohon karet dengan menggunakan gas etilen.
    Apakah bapak memakainya di perkebunan bapak?
    Ataukah bapak pernah tahu di perkebunan mana sudah menerapkannya?

  3. TRIMS..ANDA BAEK HATI

  4. BALASAN UTK PENY ROSITA

    SAYA SANGAT TAHU SOAL STIMULASI GETAH LATEKS POHON KARET DENGAN MENGGUNAKAN GAS ETILEN
    BILA ANDA TERTARIK SAYA BISA MEMBANTU HP 08126209970

  5. Pak..terima kasih infonya
    Saya mau tanya..Kalau PRI nya rendah (pada produk akhir), kira2 apa penyebabnya dan bagaimana cara membuat PRI itu naik, misalnya adanya penambahan zat2 kimia tertentu pada blanket atau crumb..asam semut or asam cuka or asam sulfat..

    terima kasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan