Karet Alam dan Bau di Pabrik Karet
1. Karet Alam
1.1 Sejarah karet Alam
Karet alam pertama kali ditemukan ketika Colombus pada tahun 1493 melihat seorang anak penduduk asli pulau Haiti sedang bermain bola hitam yang terbuat dari getah.
Setelah itu,
Thn 1763 : Mack berasal dari Perancis membuka jalan bagi pemakaian karet, dengan menemukan bahwa karet dapat dilarutkan dalam eter dan lemak terpena.
Thn 1770 : Frestry berasal dari Inggris menemukan bahwa karet dapat digunakan sebagai penghapus yang diberi nama rubber (berasal dari “rub”).
Thn 1803 : Dibangun pertama kali pabrik karet yang memproduksi ban karet dan pipa karet di Perancis.
Thn 1819 : Seorang manager pabrik karet di London menemukan mesin pemintal benang yang terbuat dari karet.
Thn 1823 : Macintos, Glasgow membuat dan memasarkan jas hujan yang terbuat dari kain yang dilapisi cairan atau larutan karet yang telah dilarutkan dalam pelarut.
Thn 1839 : Good year dari USA menemukan bahwa karet dapat mengeras bila dicampur dengan sulfur.
Thn 1846 : Han Cock menemukan teknik vulkanisir. Dari penemuan ini semakin berkembanglah pemakaian karet. Tetapi karena bahan baku getah karet diperoleh dari daerah Amazon, dimana suplainya tak sesuai dengan permintaan, maka pohon karet mulai ditanam dan dikembangkan di Inggris.
Thn 1876 : Weeckam berasal dari Inggris membawa pulang 70.000 benih tanaman Hevea dari Brazil dan ditanam di kebun Raya London. Hasil dari pengembangan budi daya tersebut dikirim ke Malaysia, Ceylon, dan Singapura.
Thn 1888 : Air land, Dun Lopp berhasil memasang ban berisi udara pada sepeda. Sejak saat itu menjadi terkenal dan popular.
Thn 1905 : Karet yang tumbuh di sekitar aliran Amazon tidak dibudidayakan dan dikontrol seperti perkebunan karet saat ini. Karena pengambilannya dibatasi dan pengambilan getah karetnya dibatasi pula, pedagang menjual dengan harga tinggi. Untuk menyelesaikan masalah itu, produksi karet dialihkan ke perkebunan di Asia Tenggara.
Abad 20 : Sejak ditemukannya mobil, permintaan akan karet mengalami lonjakan, karet alam menjadi benda langka. Sebagai gantinya akhirnya ditemukanlah karet sintesis.
1-2. Macam macam pohon karet
Tumbuhan yang mengandung elemen karet alam dalam getahnya ( lateks , poly isopuren ), di dunia ini ada banyak dan diperkirakan lebih dari 400. Di dalam getah putih yang keluar dari tanaman dandelion dan pohon ara pun mengandung elemen karet alam.
Diantara tanaman karet liar ada yang dapat hidup di daerah kering mulai dari daerah hangat sampai dingin, namun pusat daerah pertumbuhan tanaman karet adalah di daerah katulistiwa dan lembab. Saat ini, getah yang digunakan sebagai bahan baku karet alam dunia berasal dari tanaman Hevea Brasiliensis. Biasanya, bila dikatakan karet alam, maka yang dimaksud adalah Brasiliensis, sedangkan karet yang diambil dari tanaman selain Brasiliensis dibedakan dengan sebutan karet liar. Gambar 1-1 menunjukkan beberapa macam tanaman karet.
|
Hevea brasiliensis |
Manihot glaziovili |
Castilloa elastica |
|
Tanaman ini berasal dari daerah Amazon. Karena dikirim dari pelabuhan Para di muara sungai Amazon maka diberi nama Para Gomunoki (pohon karet Para). Pada tahun 1976 berhasil dikembangkan di P. Ceylon. Bila disebut karet alam maksudnya, adalah untuk tanaman karet paragomu ini. |
Termasuk tanaman tingkat rendah yang berasal dari Brazil. Karet yang diambil dari tanaman ini disebut karet ceala. Kualitas tanaman ini satu tingkat lebih rendah dari karet hevea brasiliensis. Karena kebutuhan akan karet jenis ini tidak terlalu banyak maka tanaman ini tidak dikembangbiakkan. |
Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah. Karena ertumbuhan kembali kulit pohon yang telah digores berlangsung lambat, maka getah pohon ini hanya dapat diambil 4~5 kali setahun. Bila pengambilan getahnya terlalu sering dilakukan, dapat menyebabkan matinya tanaman ini. |
|
Ficus elastica |
Landophia kirkii |
Urceola elastica |
|
Berasal dari daerah Indonesia dan Malaysia. Karena getahnya termasuk jenis yang kompleks, maka pengambilannya cukup sulit dan jumlahnya pun sedikit. Saat ini dibudidayakan sebagai tanaman foliage (dedaunan). |
Tanaman ini berasal dari Afrika dan termasuk tanaman merambat yang dapat membesar. Getahnya dapat diambil baik dengan cara memotong atau menebang pohonnya kemudian dikuliti dan diambil getahnya. Tanaman yang termasuk satu species dengan tanaman ini dan getahnya dapat diambil antara lain adalah L. Owariensis, L. Klainei, L. Heudelotti, dan L. Ugandesis. |
Termasuk tanaman merambat yang terdapat di Malaysia dan Sumatra. |
Sumber : Pt. Missi Belt [Tanaman Karet dalam Kehidupan Kita]
Gambar. 1-1 Macam-macam tanaman karet (bag.1)
|
Palaguium gatta |
Achras zapota |
Dyera Costulata |
|
Tanaman yang berasal dari Malaysia. Lateks palaguium (katapachi lateks) akan mengeras bila terkena udara, karenanya pengambilannya dilakukan dengan mengambil dan mengumpulkan daun daun dan batangnya. Karet ini sangat stabil terhadap air, sehingga banyak digunakan untuk kabel di bawah laut, tetapi kini pemakaiannya diganti dengan resin sintesis. Juga digunakan sebagai bahan kulit bola golf bagian luar.
|
Berasal dari Amerika Tengah. Getah susu yang diambil dengan cara menorehkan goresan pada kulit pohon ini. Digunakan sebagai bahan baku permen karet. Tanaman ini tidak dapat dibudidayakan di perkebunan. Sehingga sebagai ganti bahan dasar permen karet digunakanlah resin sintesis. |
Lateks yang berasal dari Malaysia ini disebut Delton. Mirip dengan lateks palaguium (katapachi). Digunakan sebagai bahan dasar permen karet dan bahan perekat untuk ikat pinggang. |
|
Accacia senegal |
Funtumia elastica Merupakan tanaman tingkat tinggi yang dapat tumbuh di daerah tropis bagian barat Afrika. Sebelum hevea brasiliensis dibudidayakan, tanaman ini terlebih dahulu telah dibudidayakan di daerah Asia Tenggara secara besar-besaran. Lateks ini memiliki kestabilan yang baik, dan dapat disimpan lebih lama. Karet futumia lebih lunak dari karet hevea brasiliensis, dan bila ditarik /diulurkan warnanya menjadi transparan sehingga bisa dibedakan dari hevea brasiliensis. |
Parthenium ArgentatumTermasuk tumbuhan semak yang hidup hanya setahun dan berasal dari Meksiko Utara. Tidak memiliki pembuluh getah. Karetnya terkandung dalam bagian batang, akar, dan daun. Setelah getahnya diambil (dari pohonnya) lalu dikeringkan dan dihancurkan lalu didihkan dalam air, maka karetnya akan mengapung di permukaan. Jumlah kandungan getah tanaman ini tinggi, namun karena karet ini lengket dari segi bisnis tidak terlalu berharga. |
|
|
Tanaman tingkat rendah ini berasal dari pantai barat Afrika. Karena getahnya mudah mengeras secara alami ketika diambil dari pohonnya maka dinamakan Arabia gomu (karet Arabia). Pada umumnya karet mengandung hydro karbon, tetapi Karet Arabia ini tersusun dari karbonhidrat sehingga mudah larut di dalam air. Digunakan dalam pembuatan berbagai jenis tinta, perekat perangko, zat yang membantu penbuatan tablet dan pil. |
|||
|
Mimusops Balata Berasal dari Amerika Selatan, getah yang diambil dari tanaman ini berwarna merah dan dapat lumer bila dipanaskan (termo revensible). Sama seperti karet katapachi digunakan terutama untuk kulit luar bola golf karena bersifat tahan air. |
Astragalus Gumifer Tanaman kecil ini berasal dari Asia kecil Greek. Dinamakan Torogonta gomu. Pemakaian dari karet ini sama dengan karet Arabia. |
Sumber : Pt. Missi Belt [Tanaman Karet dalam Kehidupan Kita]
Gambar 1-2 Macam-macam tanaman karet (bag.2)
2. Kondisi Karet Dunia
2.1 Pembagian Karet
Karet dibagi menjadi 2 yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet alam dibuat dari getah pohon karet yang diproses, sedang karet sintesis dibuat dari bahan baku minyak tanah. Karena memiliki kualitas yang lebih baik otomatis karet alam lebih mahal, Namun, prosentase pemakaiannya mengalami perubahan tergantung dari nilainya. Misalnya pada ban, biasanya menggunakan bahan dari karet alam dan karet sintesis dengan perbandingan 55 : 45. Bila karet alam mengalami kenaikan harga, maka dapat diganti dengan karet sintesis sekitar 5%, dan bila karet sintesis pun mengalami kenaikan harga akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, maka jumlah pemakaian karet alam yang diperbesar.
Ø Karet Alam
Karet alam diperoleh dari getah resin karet (lateks karet alam) yang disebut Hevea Brasiliensis yang berasal dari daerah Amazon dengan cara penggumpalan dan pengeringan. Tergantung dari cara memprosesnya, secara umum karet alam dibagi menjadi 3. Daerah penghasil karet alam terbesar yang memproduksi 70% dari jumlah seluruh produksi karet dunia adalah Thailand, Indonesia, dan Malaysia.
Lateks :
Merupakan karet alam yang awet disimpan yang dibuat dengan cara menambahkan anmonia ke dalam getah karet. Bila akan dikirim biasanya dikentalkan terlebih dahulu dengan mesin sentrifugal hingga kekentalannya mencapai 60%. Digunakan untuk sarung tangan karet, zat perekat, benang karet, alat-alat kedokteran, dan lain-lain.
RSS : karet alam yang diperoleh dengan cara memasukkan lateks ke dalam asam untuk dipadatkan, kemudian di panaskan dan diasapkan. Digunakan sebagai bahan baku produksi ban, dan tube.
TSR : Karet yang telah digumpalkan kemudian dihaluskan, setelah itu dikeringkan dengan pemanasan. Sama seperti dengan RSS, TSR digunakan sebagai bahan baku produksi ban, dan tube. Tergantung dari negara yang memproduksi, ada SMR ( Produk Malaysia ), SSR ( Produk Singapura ), SIR ( produk Indonesia ), TTR ( Produk Thailand ) dan lain lain.
Ø Karet Sintetis
Karet sistetis sengaja dibuat sedemikian rupa mirip dengan karet alam. Ada banyak macamnya yaitu Karet Isopuren ( IR ), Karet Stiren Butadien ( SBR ), Karet Butadien ( BR ), Karet Khloropuren ( CR ), Karet Nitril ( NR ), Karet BUTIL ( IIB ), Karet etilen propilen ( EPDM ), Karet Uretan ( AU, EU ), Karet silicon ( VMQ, FVMQ ), Karet Acril ( ACM ) dan lain lain.
Karet sintetis yang paling banyak diproduksi ada 3 jenis yaitu karet isopuren, karet stiren butadiene, dan karet butadiene. Bila digabung dengan karet alam, prosentase karet sintetis ini meliputi 80 %. Karet tersebut terutama digunakan sebagai bahan baku pembuatan ban.
2-2. Suplai karet alam
Karet alam diproduksi di daerah katulistiwa seperti Thailand, Indonesia, Malaysia, India, Vietnam, Srilanka, Liberia, Nigeria dan lain lain. Negara terbesar penghasil karet adalah Thailand, Malaysia dan Indonesia.
Getah karet dapat diambil sepanjang tahun, tetapi jumlah produksi getah pada musim panas ( April ~ September ) dan musim gugur ( Februari ~ April ) menurun, sedangkan pada musim hujan ( Oktober ~ Januari ) mengalami peningkatan. Namun, bila hujan turun dengan deras maka pengambilan getah pun sulit dilakukan dan kualitas getah pun menurun. Getah pohon karet baru dapat diambil setelah pohon karet berumur 5~7 tahun. Karena itu meski harga karet melonjak, jumlah produksi tidak dapat meningkat, juga meski harga karet menurun sekalipun, jumlah produksi karet tidak dapat diturunkan. Dengan kondisi seperti itu, berarti jumlah produksi karet tidak berubah meski harga karet berubah.
Jumlah produksi karet dunia tahun 2005 ditunjukkan pada tabel 2-1 dan Gambar 2-1, perubahan jumlah produksi karet alam ditunjukkan pada Gambar 2-2.
Tabel 2-1 Jumlah produksi karet di beberapa negara tahun 2005 (ribu ton/y)
|
Negara |
Thailand |
Indonesia |
Malaysia |
India |
China |
Vietnam |
Lainnya |
|
Jumlah produk |
2.832,5 |
2.270,8 |
1.126,0 |
771,5 |
428,0 |
435,5 |
764,7 |
|
Prosenta se produk |
32,8 |
26,3 |
13,0 |
8,9 |
5,0 |
5,0 |
8,9 |


Sumber referensi : Data statistik Seminar Karet Internasional ( IRSG )
Gambar 2-2 Perubahan produksi karet alam
2-3. Permintaan karet alam
Permintaan terhadap karet alam banyak dipengaruhi oleh factor jumlah industri mobil. Trend industri mobil Jepang dan Amerika memberi dampak yang besar bagi perminataan terhadap karet alam. Tetap pengaruh Cina pun tidak dapat dianggap sebelah mata sejak perkembangan industri mobil dalam negerinya yang meledak.
Bersamaan dengan perkembangan industri mobil, permintaan terhadap karet alam terus mengalami peningkatan sejak tahun 1975, namun sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1997, permintaannya pun mengalami ketersendatan. Tetapi pada sekitar pertengahan tahun 2000 terutama sejak bertambahnya jumlah industri mobil Cina, permintaan terhadap karet alam pun menunjukkan adanya peningkatan.
Gambar 2-2 dan Gambar 2-3 menunjukkan perubahan permintaan dan jumlah produksi karet alam akhir akhir ini. Sejak tahun 1999 jumlah produksi karet alam hanya sedikit melebihi permintaan, tetapi sejak tahun 2000, permintaan hanya melebihi sedikit jumlah produksi karet alam, hal tersebut menunjukkan adanya kekurangan suplai akan karet alam. Penyebab kondisi tersebut diperkirakan karena pertambahan jumlah produksi mobil di Cina, dimana kondisi seperti itu pun diperkirakan akan berlanjut terus.
Tabel 2-2 Permintaan danjumlah produksi karet dunia ( satuan :103 ton / tahun )
|
Tahun |
1995 |
1996 |
1997 |
1998 |
1999 |
2000 |
2001 |
2002 |
2003 |
2004 |
2005 |
|
|
Karet alam |
Produksi |
6,070 |
6,440 |
6,470 |
6,820 |
6,870 |
6,766 |
7,260 |
7,343 |
7,989 |
8,647 |
8,629 |
|
permintaan |
5,950 |
6,110 |
6,460 |
6,580 |
6,650 |
7,314 |
7,222 |
7,545 |
7,967 |
8,358 |
8,756 |
|
|
Karet sintetis |
produksi |
9,480 |
9,740 |
10,080 |
9,880 |
10,380 |
10,819 |
10,485 |
10,882 |
11,379 |
11,988 |
12,012 |
|
Permintaan |
9,270 |
9,590 |
10,000 |
9,870 |
10,260 |
10,765 |
10,254 |
10,725 |
11,394 |
11,856 |
11,939 |
|
Sumber referensi : IRSG, Rubber Statissical Bulletin Mar/Apr 2006

Gambar 2-3 a Jumlah produksi dan permintaan karet alam

Gambar 2-3 b Jumlah produksi dan permintaan karet sintetis
3. Proses pembuatan karet
3-1 Pengambilan getah karet
Pohon Hevea Brasiliensis dapat diambil getahnya setelah berumur 5 ~ 7 tahun ( diameter sekitar 17 cm ). Ketika mencapai umur kira kira 14 tahun, produksi getahnya mencapai titik tertinggi, dan setelah itu akan mengalami penurunan. Dikatakan bahwa umur sebuah pohon karet bisa mencapai sekitar 30 tahun. Dengan demikian , getah pohon karet dapat diambil dalam kurun waktu selama 20 tahun.
Cara mengambil getah karet adalah dengan menorehkan luka di kulit pohon karet ( lihat tapping, Gambar 2-3 (c) ) , kemudian getah yang keluar dimasukkan ke dalam wadah kecil yang telah disiapkan ( lihat Gambar 2.3.(b) ). Kemudian asam sulfat dan asam formiat dimasukkan ke dalam wadah tersebut untuk menggumpalkan getak karet ( lihat Gambar 2-3 (d) ) .
Pengambilan getah karet dengan cara tapping pada 5 tahun pertama dilakukan dengan cara menorehkan goresan pada bagian setengah lingkaran pohon karet yang akan diambil getahnya. 5 tahun berikutnya pengambilan getah karet dilakukan pada bagian sebelahnya. Bagian pohon yang kulitnya telah ditoreh goresan akan tumbuh seperti semula. Proses tapping ini dilakukan 2 kali secara berulang, sehingga getah karet dapat diambil dalam tempo 20 tahun ( lihat Gambar 3-1 )
| 0~5 thnpenyadapan |
| 6~10 thnpenyadapan |
| 11~15 thnpenyadapan |
| 16~20 thnpenyadapan |
| Ⅰ |
| Ⅱ |
| Ⅲ |
| Ⅳ |
| Batang Karet |

Gambar 3-1 Metode tapping getah karet
|
(a) Perkebunan karet nan luas di kiri kanan jalan raya |
(b) Pemandangan pengambilan getah karet |
|
(c) Tapping getah karet |
(d) Pengumpulan getah karet |
Gambar 3-2 Perkebunan karet dan pengambilan getah karet
3-2. Elemen elemen getah karet
Getah karet merupakan cairan berbentuk koloid yang mengandung zat zat seperti lateks, tepung, lemak, protein dan lain lain. Molekul molekul karet pada siang hari terbentuk di bagian daun tumbuhan karet, dan bila hari menjelang sore, getah dikirim ke bagian kulit pohon dalam bentuk polimer. Proses pengambilan getah karet dilakukan pada pukul 5 sampai pukul 8 pagi hari, karena getah karet berkumpul pada pagi hari.
Getah dari pohon Hevea Brasiliensis ( lateks ) dapat diperoleh sekitar 200 ~ 400 ml, dan selain mengandung isopuren, ia juga mengandung bermacam macam elemen lainnya. Elemen elemen tersebut dapat dilihat pada tabel 3-1 di bawah ini.
Tabel 3-1 Elemen getah Hevea Brasiliensis
|
Elemen |
Prosentase kandungan terhadap getah
( % ) |
Prosentase kandungan terhadap karet kering ( % ) |
| Air |
59,66 |
- |
| Elemen karet |
35,62 |
88,28 |
| Protein |
2,03 |
5,04 |
| Asam lemak |
1,65 |
4,10 |
| Abu |
0,70 |
1,74 |
| Glukosa |
0,34 |
0,84 |
Gambar 4-1 Perbandingan elemen elemen getah karet

Gambar 4-1 Perbandingan elemen elemen getah karet
4. Proses pembuatan karet
Tergantung dari proses pembuatannya, karet alam bisa dibagi menjadi 4 macam seperti disebut di bawah ini. Diantaranya yang paling banyak dibuat adalah smoked sheet yakni sekitar 80 % dari keseluruhan. Industri industri yang tergabung dalam Asosiasi Karet Indonesia (GAPKINDO ) pun hampir sebagian besar memproduksi smoked sheet. Alur pembuatan smoked sheet dapat dilihat pada gambar 4-1. Sedangkan Gambar 4-2 menunjukkan foto proses pembuatannya.
[ Macam macam lembaran karet berdasarkan cara pembuatannya ]
Smoked Sheet Setelah karet digumpalkan dengan memasukkan lateks ke dalam asam sulfat dan asam formiat, karet dihaluskan ( dihancurkan , lalu dilakukan proses pengadukan dan pencampuran dengan air berulang ulang dan dilebarkan hingga membentuk lembaran. Terakhir dikeringkan, dipanaskan lalu diasapkan dan diberi warna.
Klep karet yang menggumpal dicuci dengan air ayng cukup, lalu dikeringkan dengan angin panas. Proses pembuatan ini diusahakan agar warna karet tidak berubah.
Air Dry Sheet Produk antara klep dan smoked sheet
Super prosessing Rubber
Produk dengan hasil pemrosesan yang lebih baik setelah menambahkan zat pembentuk pada lateks.
|
|
export |
|
Timbul bau生 |
| Raw Material field30m × 50m |
| cutting 機 |
|
IPAL Lumpur aktif |
| P |
| scrubberバ- |
| Menara blangket30m×70m×30mH |
| Gas bau |
| crusher |
|
Hammer mill |
|
Bak lengket |
| Rollerル |
| Air Limbah |
| Outlet |
| dryer |
| press |
| packing |
| roller |
| rollerル |
| blangketット |
| balance |
| kontenerナ- |
| Kolam air baku |
| 河 川 水 |
| Raw material |
|
Dryer exhaust |
| Sumber Bau源 |
| Sumber air limbah |

Gambar 4.1 Alur pembuatan Smoked Sheet ( pabrik karet)
|
(A) Pengangkutan bahan baku ke pabrik karet |
(B) pemeriksaan penerimaan bahan baku |
|
(C) Pencucian karet dengan pengadukan menggunakan air |
(D) Pencucian ( lembaran karet ) blanket cara Mangel |
|
(e) Blangket Tower (natural drying)
(g) Heat air dyer
|
(f) Pencucian sebelum kering dari blangket tower
(h) Product inspection, balance, press
|
Gambar 4-2 (a~h) Foto-foto proses produksi smoked sheet karet (pabrik karet)
5. Bau di pabrik penghancur karet
Ada tiga tempat di pabrik karet yang menjadi sumber penyebab timbulnya bau yaitu “tempat penyimpanan bahan bakar”, “menara blanket”, dan “gas buangan mesin pengering”, seperti tampak pada gambar 4.1 yang menunjukkan alur pembuatan karet. Bau di menara blanket dan tempat penyimpanan, merupakan bau yang timbul karena pembusukan tepung dalam getah karet yang utamanya tersusun dari gula, protein dan lain-lain, serta sedikit asam lemak tingkat rendah, hidrogen sulfida, metil merkaptan, anmomia , dan grup amin tingkat rendah bila bahan baku karet disimpan dalam waktu yang lama. Sedangkan bau pada “gas buangan mesin pengering” merupakan bau yang terjadi karena zat penguraian termal pada saat pemanasan dilakukan .
Seperti yang telah disebutkan dalam materi mengenai “Teori teknik pencegahan bau”, ada bermacam-macam metode untuk menghilangkan bau, dimana untuk menjelakan penganggulangan bau, harus dipilih system proses yang ekonomis, dan efektif, serta harus dilakukan survey mengenai volume gas, konsentrasi, dan spesifikasi zat bau yang diproses. Selain itu harus pula dipertimbangkan masalah mengenai kondisi dan tingkat penyebaran bau serta penyebaran bau itu sendiri ke area sekitar pabrik.
5.1 Bau yang timbul dan pembusukan getah karet
Bahan baku karet dikirim ke pabrik membutuhkan waktu selama 1 bulan. Sebelum sampai ke pabrik, protein gula dan tepung yang terdapat dalam getah karet mengalami pembusukan dan menebarkan bau busuk. Bau yang timbul dari dalam bahan baku karet dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan diduga dapat menimbulkan dampak tertentu. Selain itu, elemen bau dan zat campuran yang terkandung dalam bahan baku karet, pada saat dilakukan pencucian akan turut mengalir bersama dengan air limbah, sehingga menimbulkan bau yang kuat. Bila limbah tersebut langsung dibuang begitu saja ke sungai, tentu dapat menimbulkan komplain dari warga sekitar terhadap bau yang menyengat dan warna air sungai.
Meski zat bau jumlahnya hanya sedikit, ia tetap menyebarkan bau yang kuat. Karenya bila zat bau tersebut tertinggal sedikit saja di blanket setelah selesai proses pencucian, dapat menebarkan bau dari menara blanket.
Setelah pengeringan alami di menara blanket selesai, karet dimasukkan ke dalam mesin pengering angin panas untuk dikeringkan. Pada saat itu, ada sebagian dari karet yang terurai secara termal, sehingga menimbulkan bau khas karet. Untuk menghilangkan gas bau tersebut dilakukanlah proses dengan scrubber. Kondisi tersebut di atas bila dinyatakan dengan gambar akan tampak seperti gambar 5-1.
| Raw material |
| Dalam getah karetstarch、protein |
| Timbul bahan berbau(penguraian anaerob) |
| Ekstrak bahanberbau |
| Waste water |
| Tdk berbauSO42-
H2O.CO2 NO3-, NO2-→N2 Gas |
| Penguraian BOD,CODPenguraian bahan berbau |
|
Penyadapan karet |
| R-NH2-SO4 |
| R-NH2-COOH |
| R-CO-NH-R |
| (C6H12O6)n |
| Pengumpulan dan transporSekitar 1 bulan |
| H2S,CH3SH |
| CH3COOH,(CH3)2CHCOOH |
| (C2H5)3N(C2H5)2NH
(CH3)3N NH3 |
| sulfida |
| Asam organik |
| Group amin |
| Bahan bau |
| Pencucian karet |
| Outlet |
| Gambar 5-1 Timbulnya bau dipabrik karet |
|
Raw material field |
| Blangket tower |
| IPAL lumpuraktif |
| Bau menyebar |
| Bau menyebar |
| Bahan berbau tersisa |
| Bau menyebar |
| Heat air dryer |
| Gas berbau |
| スクラバー |
| exhaust |
| Press Bungkus |
| Market |

5.2 Tempat penyimpanan bahan baku
5.2.1.Kondisi bau di tempat penyimpanan bahan baku
Setelah petani mengambil getah karet, kemudian getah tersebut dikirim dalam bentuk gumpalan ( setelah digumpalkan dengan asam formiat atau asam sulfat ) ke pabrik melalui pihak pengusaha karet. Butuh waktu hampir satu bulan untuk sampai ke pabrik karena harus melalui beberapa tangan yaitu, sejak dari pengambilannya ke bagian pengumpulannya, lalu ke bagian pengawetan, dan bagian pengiriman. Jadi : ketika bahan baku karet sampai di pabrik, kemungkinan besar zat-zat campuran dalam getah akan membusuk dan menebarkan bau. Setelah sampai di pabrik karet, bahan baku karet dikumpulkan di “tempat penerimaan bahan baku”, kemudian setelah diperiksa dan dipilah-pilah, barulah dikirim ke bagian proses produksi. Bila bau busuk di sekitar tempat penerimaan bahan baku menyebar ke luar pabrik, diperkirakan dapat menimbulkan gangguan yang tidak menyenangkan bagi penduduk sekitar.
Keadaan bau yang timbul di tempat penerimaan dan tempat pengawetan karet serta hasil pengukuran konsentrasi bau dapat dilihat pada gambar 5-2 dan tabel 5-2.
|
Timbul bau dari tumpukan bahan baku dan tanah serta air yg menempel, serta pada air dari dasar tumpukan |
Ketika bahan baku di potong, dari bag dalam keluar bau yg menyengat, didalam raw material ini jg terdapat tanah dan air |
|
Gambar 5-2 Kondisi Penumpukan Bahan Baku Yang Menimbulkan Bau |
|
Dari hasil tabel 5.1 diperkirakan bahwa elemen-elemen utama bau yang timbul dari bahan baku karet adalah anmonia, grup amin, dan asam organik. Dan diperkirakan pula terkandung sedikit elemen-elemen bau seperti grup sulfida, hydrogen sulfida dan metil merkaptan.
Tabel 5.1 Hasil pengukuran bau di tempat penyimpanan bahan baku
pabrik karet (nilai rata-rata : ppm)
|
Nama pabrik |
Tempat pengukuran |
As.asetat (asam org.) |
H2S |
CH3SH |
NH3 |
( CH3 ) 3 N ( CH3 ) 2 NH |
( C2 H5 )3N |
|
KAPUAS BESAR |
Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,7 |
3,5 |
0,8 |
|
Tumpukan bagian atas bahan baku |
0,1 |
0,0 |
0,0 |
5,8 |
2,6 |
2,7 |
|
|
KIRANA SAPTA |
Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku |
0,2 |
0,0 |
0,0 |
4,2 |
5,8 |
7,2 |
|
VIRGO |
Tumpukan bagian atas bahan baku |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
32,4 |
64,0 |
22,0 |
|
TELUK LUAS |
Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku |
,0,0 |
0,0 |
0,0 |
4,0 |
1,6 |
1,8 |
|
ABAISIAT RAYA |
Tumpukan bagian atas bahan baku |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
1,7 |
2,5 |
1,6 |
|
BATANG HARI BARISAN |
Tumpukan bagian atas bahan baku |
1,5 |
0,0 |
0,0 |
0,8 |
2,4 |
1,4 |
|
LEMBAH KARET |
Tempat pemeriksaan penerimaan bahan baku |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,7 |
1,5 |
2,3 |
|
ANEKA BUMI PRATAMA |
Tumpukan bagian atas bahan baku |
0,0 |
0,1 |
0,2 |
0,0 |
0,0 |
0,8 |
|
|
Nilai rata rata |
0,2 |
0,0 |
0,0 |
5,6 |
9,3 |
4,5 |
Pada gambar 5.3 dan 5.4 tampak nilai hasil pengukuran dengan menggunakan “sensor bau PX-329″ (selanjutnya disingkat menjadi nilai berdasarkan PX-329). Nilai pengukuran berdasar PX-329 tersebut merupakan nilai yang dapat dikelompokkan ke dalam konsentrasi bau yang selaras dengan indra penciuman manusia. Nilai itu menunjukkan apakah gas bau tersebut equivalen dengan konsentrasi kelipatan nilai berdasarkan indra bau.
Bila hasil pengukuran di beberapa tempat dalam pabrik karet disusun, maka akan tampak seperti pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Hasil pengukuran bau di pabrik karet menurut PX-329
|
|
Hasil pengukuran di pabrik B |
Hasil pengukuran di pabrik H |
||||||||
|
Tempat pengu kuran |
Langsung setelah keluar dari mesin pengering |
Penghancur |
Angin di atas bahan baku |
Tempat penyim panan bahan baku |
Bawah angin tempat penyim panan bahan baku |
Tempat lain |
Angin di atas bahan baku |
Tempat penyim panan bahan baku |
Bawah angin tempat penyim panan bahan baku |
Tempat lain |
|
Berdasar PX-329 |
320~550 |
800~1400 |
90~100 |
340~400 |
110~180 |
45~65 |
60~90 |
200~220 |
120~135 |
30~35 |
Tabel 5-3 Nilai pengukuran bau berdasarkan PX-329 dan standar pengontrolan berdasarkan experimen tiap fungsi
|
|
Standar pengontrolan berdasarkan eksperimen Jepang |
Hasil pengukuran di pabrik B |
Hasil pengukuran di pabrik H |
|||||
|
Mesin pengering |
Penghancur |
Tempat bahan baku |
Tempat lain |
Tempat bahan baku |
Tempat lain |
|||
|
Metode indikator |
Indeks bau |
Konsentrasi bau |
PX-329 |
PX-329 |
PX-329 |
PX-329 |
PX-329 |
PX-329 |
|
Bau yang timbul di lubang pembuangan |
30~40 |
300~1000 |
320~550 |
340~400 |
340~400 |
100~170 |
200~220 |
40~60 |
|
Area dataran |
10~18 |
10~30 |
- |
- |
110~180 |
45~65 |
120~135 |
30~50 |
Catatan : 1) Nilai PX-329 sebanding dengan konsentrasi bau.
2) Konsentrasi bau menunjukkan nilai kelipatan saat gas bau diencerkan dengan gas tak berbau sampai baunya hilang.
3) Nilai logaritma dari konsentrasi bau bila dikali dengan 10 disebut dengan indeks bau.
Indeks bau = 10 kali log ( konsentrasi bau ).
5.2.2. Pengukuran konsentrasi bau di tempat penyimpanan bahan baku
Bila metode pengontrolan bau berdasarkan eksperimen di Jepang dibandingkan dengan nilai hasil pengukuran dengan menggunakan PX-329, hasilnya akan tampak pada tabel 5.3. Nilai pengukuran berdasarkan PX-329 di tempat sumber bau seperti di tempat penyimpanan bahan baku dan mesin pengering sama dengan standar gas buang dari lubang pembuangan Jepang.
Tetapi, nilai pengukuran di lingkungan dataran di bawah angin tempat penyimpanan bahan baku bila dibandingkan dengan standar pengontrolan di lingkungan dataran tampak berada pada level yang cukup tinggi. Jadi, untuk mengatasi bau udara dengan konsentrasi tinggi dari tempat penyimpanan bahan baku, perlu dipikirkan suatu penanganan yang baik.
Selain itu, nilai pengukuran dengan PX-329 di lingkungan dataran yang tak terkena langsung oleh efek bau dari tempat penyimpanan bahan baku, standar pengontrolannya sedikit menurun, mungkin tak terlalu menimbulkan masalah.
5.3 Bau di Menara Blanket
5.3.1 Menara Blanket
Karet alam akan melewati proses pencucian di beberapa mangel setelah dihancurkan, kemudian dibentuk menjadi lembaran-lembaran. Lembaran-lembaran tersebut dibawa ke blanket dalam bentuk gulungan atau dilipat. Kemudian digantung dari bagian atas menara, dan dikeringkan dengan diangin-anginkan selama kurang lebih 10 hari. Menara blanket merupakan bangunan yang sangat besar seperti tampak pada gambar 5-5 di bawah ini. Besar menara blanket berbeda pada tiap pabrik, biasanya besarnya seperti berikut :
|
Kapuas Besar |
Aneka Bumi Pratama |
|
Lebar 20~30 m Panjang 70~80 m Tinggi 15 ~30 m Volume 24.000 ~63.000m3 |
|
|
Gambar 5-5. Menara Blangket di Pabrik Crum Rubber |
|
5.3.2. Bau di menara blanket
Hasil detail pengukuran bau di menara blanket tertulis dalam data tambahan. Hasil tersebut bila disajikan dalam bentuk tabel tampak pada tabel 5-4 dan 5-5.
Elemen bau utama di menara blanket sama dengan yang terkandung dalam bahan baku karet yaitu anmonia, grup amin, dan asam organik. Untuk mencuci elemen-elemen bau dalam bahan baku karet tersebut pada proses pencucian, merupakan hal yang sangat sulit.
Tabel 5-4 Hasil pengukuran bau dalam menara blanket ( nilai rata-rata : ppm )
|
Nama pabrik |
Tempat pengukuran |
As.asetat (asam org) |
H2S |
CH3SH |
NH3 |
( CH3 ) 3 N ( CH3 ) 2 NH |
(C2 H5 )3N |
|
KAPUAS BESAR |
Tempat dengan bau kuat |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
|
KIRANA SAPTA |
Tempat dengan bau kuat |
0,8 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
1,0 |
0,8 |
|
VIRGO |
Tempat dengan bau kuat |
2,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,6 |
0,2 |
|
TELUK LUAS |
Tempat dengan bau kuat |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
|
ABAISIAT RAYA |
Tempat dengan bau kuat |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,3 |
0,0 |
0,8 |
|
BATANG HARI BARISAN |
Tempat dengan bau kuat |
1,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
|
LEMBAH KARET |
Tempat dengan bau kuat |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
1,0 |
1,5 |
1,0 |
|
ANEKA BUMI PRATAMA |
Tempat dengan bau kuat |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
1,0 |
|
Nilai rata rata |
0,5 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
0,4 |
0,5 |
|
Tabel 5-5. Distribusi konsentrasi bau dibagian dalam blanket
( nilai pengukuran bau dasar PX-329)
|
Nama Pabrik |
Tempat pengu kuran |
Laju rata rata m/detik |
Rata rata konsnetrasi bau |
Nama Pabrik |
Tempat pengu kuran |
Laju rata rata m / detik |
Rata rata konsnetrasi bau |
||
|
total |
pusat |
total |
pusat |
||||||
|
KIRANA SAPTA |
5F |
3,0 |
14 |
20 |
HOK TONG (Palembang) |
3F |
0,8 |
170 |
201 |
|
4F |
2,3 |
11 |
27 |
2F |
1,0 |
115 |
139 |
||
|
3F |
1,8 |
42 |
59 |
1F |
1,1 |
113 |
121 |
||
|
2F |
1,0 |
94 |
120 |
HOK TONG (Palembang) |
3F |
1,1 |
78 |
83 |
|
|
1F |
0,7 |
91 |
97 |
2F |
1,0 |
81 |
109 |
||
|
|
|
|
|
|
1F |
0,5 |
142 |
203 |
|
Dari distribusi bau di menara blanket seperti tampak pada tabel 5-5, tampak adanya kecenderungan seperti berikut.
[ Kecenderungan timbulnya bau di menara blanket]
(1) Tempat yang kecepatannya tinggi, sifat alirannya baik,konsentrasi bau rendah.
(2) Bagian tengah menara, udaranya berkumpul, konsentrasi bau tinggi.
(3) Angin di bagian atas menara diperkirakan arusnya kuat.
(4) Konsentrasi bau di tempat pengeringan sejak dilakukannya pengeringan sampai hari ke tiga tinggi.
(5) Tempat yang proses pengeringannya berlangsung lancar, konsentrasi baunya rendah
5-4. Gas buang dari mesin pengering anginpanas
5-4-1. Mesin Pengering angin panas
Setelah karet dikeringkan secara alami di menara blanket, kemudian karet dipanaskan dengan mesin pengering angin panas dan dibentuk menjadi smoked sheet yang memiliki sifat elastisitas tinggi ( dapat mengerut dan merenggang ). Bahan karet tersebut dipanaskan dengan suhu 120 ~ 145 °C dan menimbulkan bau khas karet yang terbakar. Sehingga bertambahlah jenis bau yang timbul dari gas buang tersebut. Struktur mesin pengering angin panas ditunjukkan Dalam mesin pengering angin panas dipasang 6 buah mesin blower di depan dan belakang, blower ventilai, blower-fan pendingin, fan sirkulasi dan lain lain. Hampir semua mesin blower tersebut merupakan produk buatan pabrik sendiri atau produk hasil reparasi. Bila tenaga motornya sudah lama, laju gas yang keluar dari mesin blower tidak terlalu jelas.
dalam gambar 5-6.
| Konteneroutput |
| 11 |
| 10 |
| 9 |
| 8 |
| 7 |
| 6 |
| 5 |
| 4 |
| 3 |
| 2 |
| 1 |
| 17 |
| 16 |
| 15 |
| 14 |
| 13 |
| 12 |
| Kontenerinput |
| moisture0.6% |
| バ-ナ |
| バ-ナ |
| 温度 120~145℃ |
| suhu120~135℃ |
| 循環ファン |
| Exhaustblower |
| Recycle fan |
|
Cooling blower |
|
Cooling fan |
| Alur udara panas |
| Alur udara dingin |
| Moving spedd 8 ~ 11 min/Trolley |
| Production cap 2.5 t/hour |

Gambar 5-6 Heat Dryer Diagram
Pada tahun 2001 ~ 2002, dilakukan survey actual mengenai pemakaian mesin pengering angin panas di beberapa buah pabrik. Hasilnya tampak seperti pada tabel 5-6. Nilai rata rata gas buang dari mesin pengering angin panas yang disurvey adalah : suhu 52,2 °C, tekanan statis 75,4 mmH2O, dan laju gas buang 277 m3 / menit.
Tabel 5-6 Hasil survey laju gas buang dan cara kerja mesin pengering angin panas tiap perusahaan
(1)
|
Nama pabrik |
KAPUAS BESAR |
VIRGO |
KIRANA SAPTA |
||||||||
|
Tanggal survey |
01/26/02 |
10/31/02 |
10/30/02 |
||||||||
|
Jumlah kontainer dalam mesin pengering |
|
11 buah |
24 buah |
||||||||
|
Jumlah tungku pemanas |
|
1 |
3 |
||||||||
|
Suhu pengeringan (°C) |
|
120 ~ 135 |
126 ~ 165 |
||||||||
|
Kapasitas pengeringan ( ton/jam) |
|
5 ~ 6 |
6 |
||||||||
|
Lubang pembuangan gas |
No.1 |
No.2 |
No.1 |
No.2 |
No.3 |
Duct |
No.1 |
No.2 |
No.3 |
||
|
Ventilasi |
Diameter |
cm φ |
|
|
|
|
|
|
82.0 |
45.0 |
75.0 |
|
Daya |
Hp |
|
|
5 |
5 |
20 |
|
20 |
25 |
30 |
|
|
Jumlah putaran |
r.p.m |
|
|
1,450 |
1,450 |
1,450 |
|
1,740 |
2,175 |
2,175 |
|
|
Talang |
Ukuran |
cm |
65.2Φ |
78 Φ |
56.0 Φ |
60.0 Φ |
60.0 Φ |
|
61.1 Φ |
48.0 Φ |
78.0 Φ |
|
Luas Permukaan |
m2 |
0.334 |
0.478 |
0.314 |
0.360 |
0.283 |
|
0.293 |
0.181 |
0.478 |
|
|
Gas bau |
Suhu |
oC |
|
|
34.5 |
36.0 |
37.5 |
|
46.0 |
76.0 |
55.0 |
|
Tekanan Statis |
mmH2O |
112 |
45.9 |
337 |
306 |
168 |
|
3.1 |
2.0 |
2.0 |
|
|
Kecepatan |
m/sec |
9.5 |
13.5 |
7.7 |
15.2 |
16.4 |
|
30.0 |
16.0 |
11.3 |
|
|
Laju |
m3/min |
190 |
387 |
144 |
328 |
279 |
|
528 |
174 |
324 |
|
(2)
|
Nama pabrik |
KIRANA SAPTA |
TELUK LUAS |
ABAISIAT RAYA |
||||||||
|
Tanggal survey |
01/30/02 |
02/05/02 |
02/09/02 |
||||||||
|
Jumlah kontainer dalam mesin pengering |
24 unit |
16 unit |
10 unit |
||||||||
|
Jumlah tungku pemanas |
3 unit |
2 unit |
1 unit |
||||||||
|
Suhu pengeringan (°C) |
126 ~ 165 |
120 ~ 135 |
120~135 |
||||||||
|
Kapasitas pengeringan ( ton/jam) |
6 |
5 ~ 7 |
3 ~ 3.5 |
||||||||
|
Lubang pembuangan gas |
No.1 |
No.2 |
No.3 |
No.1 |
No.2 |
No.3 |
No.4 |
No.5 |
No.1 |
||
|
Ventilasi |
Diameter |
cm φ |
82.0 |
45.0 |
75.0 |
|
|
|
|
|
|
|
Daya |
Hp |
20 |
25 |
30 |
20 |
20 |
15 |
20 |
10 |
10 |
|
|
Jumlah putaran |
r.p.m |
1,740 |
2,175 |
2,175 |
1,100 |
1,200 |
1,100 |
1,200 |
1,800 |
|
|
|
Talang |
Ukuran |
cm |
61.1 Φ |
48.0 Φ |
78.0 Φ |
55.0 Φ |
55.0 Φ |
55.0 Φ |
55.0 Φ |
55.0 Φ |
70.0 Φ |
|
Luas Permukaan |
m2 |
0.293 |
0.181 |
0.478 |
0.303 |
0.303 |
0.303 |
0.303 |
0.303 |
0.385 |
|
|
Gas bau |
Suhu |
oC |
46.0 |
76.0 |
55.0 |
37.0 |
108.3 |
68.7 |
49.3 |
32.0 |
40.0 |
|
Tekanan Statis |
mmH2O |
3.1 |
2.0 |
2.0 |
0.7 |
7.1 |
30.6 |
40.8 |
71.4 |
19.4 |
|
|
Kecepatan |
m/sec |
30.0 |
16.0 |
11.3 |
4.7 |
13.0 |
21.0 |
14.0 |
20.3 |
13.0 |
|
|
Laju |
m3/min |
528 |
174 |
324 |
85 |
236 |
381 |
254 |
369 |
300 |
|
(3)
|
Nama pabrik |
ANEKA BUMI PRATAMA |
HOK TONG |
BADJA BARU |
MUARA KELINGI Ⅱ |
平均値 1 |
|||||
|
Tanggal survey |
02/15/02 |
02/20/02 |
02/23/02 |
02/21/02 |
|
|||||
|
Jumlah kontainer dalam mesin pengering |
37 unit |
17 unit |
17 unit |
inlet |
Ekstruder output |
Ekstruder output |
|
|||
|
Jumlah tungku pemanas |
2 unit |
1 unit |
2 unit |
2 unit |
|
|||||
|
Suhu pengeringan (°C) |
120 ~ 135 |
120~145 |
120~145 |
125~160 |
|
|
120~145 |
|||
|
Kapasitas pengeringan ( ton/jam) |
4.5 |
2.5 |
2.5 |
4 |
|
|
4.3 |
|||
|
Lubang pembuangan gas |
No.1 |
No.2 |
No.1 |
No.2 |
No.3 |
No.1 |
No.1 |
|
||
|
Ventilasi |
Diameter |
cm φ |
72.5*2 |
72.5 |
|
|
|
|
|
|
|
Daya |
Hp |
15*2 |
15 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah putaran |
r.p.m |
1,500*2 |
1,500 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Talang |
Ukuran |
cm |
76.2 Φ |
76.2 Φ |
56.0 Φ |
56.0 Φ |
77.0 Φ |
|
78.0 Φ |
|
|
Luas Permukaan |
m2 |
0.456 |
0.456 |
0.314 |
0.314 |
0.465 |
|
0.478 |
0.344 |
|
|
Gas bau |
Suhu |
oC |
32.7 |
41.0 |
54.0 |
56.0 |
63.5 |
|
50.0 |
52.2 |
|
Tekanan Statis |
mmH2O |
6.0 |
0.5 |
70 |
180 |
250 |
|
330 |
75.4 |
|
|
Kecepatan |
m/sec |
5.5 |
9.0 |
13.0 |
11.8 |
8.3 |
|
4.9 |
14.1 |
|
|
Laju |
m3/min |
150 |
246 |
245 |
222 |
232 |
|
140 |
277 |
|
5-4-2. Bau dari mesin pengering angin panas
Hampir semua pabrik memproses gas bau yang dibuang dari mesin pengering angin panas dengan scrubber. Dan hampir seluruh scrubber merupakan alat yang disuplai sebagai fasilitas pelengkap mesin pengering sesuai dengan merek mesin pengering angin panas yang digunakan dan merupakan alat yang diprodukasi oleh perusahaan sendiri, sehingga tidak ada standar untuk kondisi operasi scrubber ( misalnya laju air sirkulasi, kehilangan tekanan, laju aliran udara, laju angin proses, dan lain-lain) serta efeknya terhadap penghilangan bau pun tidak jelas. Barulah pada tahun 2001 ~ 2002, dilakukan survey actual terhadap kondisi operasi scrubber, dimana hasilnya disajikan dalam tabel 5-7 dan tabel 5-8.
Elemen bau gas utama dari mein pengering angin panas yang terdeteksi merupakan zat hasil peruraian panas dari karet, adalah asam organik, anmonia, dan grup amin, serta sedikit hydrogen sulfida dan metil merkaptan. Nilai rata rata konsentrasi baunya berdasar pengukuran PX-329 sebesar 350, sehingga memiliki bau yang cukup kuat dan kemungkinan baunya dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan survey berkaitan dengan fungsi scrubber, konsentrasi bau, dan laju gas buang dari mesin pengering angin panas. Serta perlu juga dilakukan penelitian terhadap perkembangan efek proses dan kondisi operasional yang tepat.
Tabel 5-7 Hasil pengukuran gas buang dari mesin pengering angin panas tiap perusahaan
(1)
|
Nama pabrik |
KAPUAS BESAR |
VIRGO |
KIRANA SAPTA |
||||||||
|
Tanggal survey |
01/26/02 |
10/31/02 |
10/30/02 |
||||||||
|
Lubang pembuangan gas |
- |
No1 |
No2 |
No1 |
No2 |
No3 |
duct total |
No1 |
No2 |
No3 |
|
|
Laju gas |
m3/mnt |
190 |
387 |
144 |
326 |
279 |
|
528 |
174 |
324 |
|
|
Konsentrasi gas bau |
As-org |
ppm |
0,0 |
0,8 |
1,0 |
2,4 |
0,0 |
1,0 |
0,4 |
3,5 |
1,0 |
|
H2S |
ppm |
0,2 |
0,3 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,1 |
0,0 |
0,0 |
|
|
CH3SH |
ppm |
0,5 |
0,4 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,3 |
0,0 |
0,0 |
|
|
NH3 |
ppm |
2,0 |
0,0 |
0,5 |
2,0 |
0,0 |
1,0 |
0,5 |
6,4 |
8,0 |
|
|
CH3 NH2 |
ppm |
0,8 |
0,6 |
1,2 |
0,0 |
0,0 |
2,0 |
1,0 |
6,0 |
2,0 |
|
|
(C2H5) 2NH |
ppm |
1,5 |
1,5 |
1,0 |
0.0 |
0,0 |
1,7 |
1,5 |
4,0 |
3,0 |
|
|
Nilai berdasar PX-329 |
250 |
200 |
150 |
400 |
80 |
200 |
300 |
750 |
450 |
||
(2)
|
Nama pabrik |
KIRANA SAPTA |
TELUK LUAS |
ABAISIAT RAYA |
|||||||||
|
Tanggal survey |
10/30/02 |
02/05/02 |
02/09/02 |
|||||||||
|
Lubang pembuangan gas |
- |
No1 |
No2 |
No3 |
No1 |
No2 |
No3 |
No4 |
No5 |
No1 |
||
|
Laju gas |
m3/mnt |
528 |
176 |
324 |
85 |
236 |
381 |
254 |
369 |
300 |
||
|
Konsentrasi gas bau |
As-org |
ppm |
0,4 |
3,5 |
1,0 |
0,0 |
0,0 |
1,2 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
|
|
H2S |
ppm |
0,1 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
||
|
CH3SH |
ppm |
0,3 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
||
|
NH3 |
ppm |
0,5 |
6,4 |
8,0 |
0,0 |
0,8 |
1,0 |
0,1 |
0,2 |
0,0 |
||
|
CH3 NH2 |
ppm |
1,0 |
6,0 |
2,0 |
0,0 |
0,5 |
1,2 |
0,3 |
0,5 |
0,0 |
||
|
(C2H5) 2NH |
ppm |
1,5 |
4,0 |
3,0 |
0,0 |
1,0 |
1,2 |
0,5 |
0,5 |
0,0 |
||
|
Nilai berdasar PX-329 |
300 |
700 |
450 |
150 |
180 |
450 |
150 |
120 |
80 |
|||
(3)
|
Nama pabrik |
ANEKA BUMI PRATAMA |
HOK TONG |
BAJA BARU |
MUARA KELINCI |
Nilai rata rata |
|||||||
|
Tanggal survey |
02/15/02 |
02/20/02 |
02/23/02 |
02/21/02 |
|
|||||||
|
Lubang pembuangan gas |
- |
No1 |
No2 |
No1 |
No2 |
No3 |
No1 |
No1 |
- |
|||
|
Laju gas |
m3/mnt |
150 |
246 |
245 |
222 |
232 |
|
450 |
277 |
|||
|
Konsentrasi gas bau |
As-org |
ppm |
0,8 |
0,0 |
5,0 |
0,5 |
4,5 |
14,0 |
0,0 |
1,2 |
||
|
H2S |
ppm |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
0,3 |
1,1 |
0,0 |
0,3 |
0,1 |
|||
|
CH3SH |
ppm |
0,0 |
0,0 |
0,8 |
0,3 |
3,2 |
0,0 |
0,0 |
0,3 |
|||
|
NH3 |
ppm |
1,3 |
1,1 |
6,0 |
3,0 |
0,0 |
31,0 |
10,0 |
2,1 |
|||
|
CH3 NH2 |
ppm |
2,3 |
1,3 |
14,0 |
4,2 |
1,6 |
12,0 |
13,5 |
2,2 |
|||
|
(C2H5) 2NH |
ppm |
1,2 |
1,2 |
7,3 |
6,8 |
0,0 |
19,0 |
11,0 |
1,8 |
|||
|
|
400 |
450 |
800 |
650 |
400 |
1200 |
900 |
350 |
||||
Tabel 5-8 Hasil pengukuran bau di bagian lubang masuk keluar mesin pengering angin panas
|
Nama pabrik |
Tempat pengukuran |
Asam org |
H2S |
CH3SH |
NH3 |
CH3 NH2 |
(C2H5)2NH |
|
KAPUAS BESAR |
Lubang keluar mesin pengering |
28,0 |
0,0 |
0,0 |
1,6 |
12,4 |
12,0 |
|
KIRANA SAPTA |
Lubang keluar mesin pengering |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
1,0 |
|
Lubang ventilasi |
4,8 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
1,0 |
|
|
VIRCO |
Lubang masuk mesin pengering |
2,0 |
0,0 |
0,0 |
4,8 |
3,8 |
3,4 |
|
Lubang keluar mesin pengering * |
23,0 |
0,0 |
0,0 |
22,0 |
6,2 |
20,0 |
|
|
TELUK LUAS |
Lubang keluar mesin pengering |
1,0 |
0,0 |
0,0 |
0,8 |
1,8 |
1,2 |
|
ABAISIAT RAYA |
Lubang masuk mesin pengering |
2,2 |
0,0 |
0,0 |
4,0 |
3,0 |
4,0 |
|
BATANG HARI BARISAN |
Lubang keluar mesin pengering |
12,0 |
0,0 |
0,0 |
0,6 |
6,0 |
3,7 |
|
LEMBAH KARET |
Lubang keluar mesin pengering ** |
21,0 |
0,0 |
0,0 |
50,0 |
0,4 |
26,0 |
|
ANEKA BUMI PRATAMA |
Lubang keluar mesin pengering |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,0 |
0,2 |
0,0 |
|
Nilai rata rata total |
9,4 |
0,0 |
0,0 |
8,4 |
3,6 |
7,2 |
|
|
Nilai rata rata ( kecuali * dan ** ) |
6,3 |
0,0 |
0,0 |
1,5 |
3,6 |
3,3 |
|
DIarsipkan di bawah: Karet














































































Dear Bapak Ediesen,
Terima kasih untuk kesediaan bapak untuk berbagi informasi mengenai pengelolaan karet.
Pak, kami berada di Jawa Timur, kebetulan memiliki sedikit lahan. Tertarik untuk tanam karet. Apakah kami bisa mendapatkan masukan dari bapak bagaimana untuk persiapan dan memulai perkebunan karet?
Atas perhatian dan bantuannya, kami ucapkan banyak terima kasih.
Salam,
Djony Tannady
Email: djony_t@indo.net.id
HP: 08123115878
Saya pernah mendengar untuk menstimulasi getah lateks pohon karet dengan menggunakan gas etilen.
Apakah bapak memakainya di perkebunan bapak?
Ataukah bapak pernah tahu di perkebunan mana sudah menerapkannya?
TRIMS..ANDA BAEK HATI
BALASAN UTK PENY ROSITA
SAYA SANGAT TAHU SOAL STIMULASI GETAH LATEKS POHON KARET DENGAN MENGGUNAKAN GAS ETILEN
BILA ANDA TERTARIK SAYA BISA MEMBANTU HP 08126209970
Pak..terima kasih infonya
Saya mau tanya..Kalau PRI nya rendah (pada produk akhir), kira2 apa penyebabnya dan bagaimana cara membuat PRI itu naik, misalnya adanya penambahan zat2 kimia tertentu pada blanket atau crumb..asam semut or asam cuka or asam sulfat..
terima kasih sebelumnya