Makanan Rendah Karbohidrat Lebih Bagus daripada Rendah Lemak

Dalam dunia nutrisi, tidak setiap orang memiliki pendapat yang sama. Mungkin contoh yang paling nyata dan umum dalam hal ini adalah seberapa besar jumlah karbohidrat dan lemak yang seharusnya kita konsumsi.

Pandangan konvensional mengungkapkan bahwa makanan untuk diet seharusnya rendah lemak dan tinggi karbohidrat. Kita tahu lemak membuat kita gemuk, maka dengan memakan sedikit lemak kita akan tetap langsing dan sehat. Sebaliknya, beberapa pihak membantahnya dengan mengatakan, bukan karena terlalu banyak lemak yang membuat kita gemuk, namun terlalu banyak karbohidrat. Individu semacam ini akan menyarankan diet rendah karbohidrat, yang mungkin (tetapi mungkin juga tidak) akan berakhir dengan makanan yang kaya lemak.

Dalam artikel ini saya telah memilih untuk meneliti bukti bahwa diet rendah karbohidrat lebih baik daripada rendah lemak dalam hal pengurangan berat badan. Saya tidak mengacu pada studi yang menemukan bahwa diet rendah lemak paling baik berkenaan dengan ini.

Hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran bahwa rendah lemak adalah cara diet yang paling baik, dengan terpaksa sering menganggap bahwa diet rendah karbohidrat tidak sehat, kandungan lemak tinggi yang kadang kala terkandung pada makanan diet mereka, akan menempatkan seseorang pada resiko penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung dan stroke. Saya harus mengatakan, saya tidak tergerak oleh argumen ini karena dua sebab utama.

Pertama, tidak ada bukti yang benar-benar cukup untuk mengaitkan dugaan ketidak-sehatan lemak jenuh (yang ditemukan terutama pada daging, telur, makanan olahan) dan meningkatnya resiko penyakit karadiovaskuler. Tidak banyak juga (bila ada) bukti yang baik bahwa mengonsumsi sedikit lemak jenuh mempunyai keuntungan yang luas bagi kesehatan.

Namun saya memiliki persoalan utama yang lain yang berkaitan dengan argumen diet rendah karbohidrat tidak baik untuk jantung dan sistem sirkulasi adalah bahwa banyak studi telah menemukan, dibandingkan dengan diet rendah lemak, diet semacam itu umumnya mengarah pada peningkatan tanda-tanda biokimia dari penyakit kardiovaskuler.
Banyak studi telah menemukan bahwa diet lebih-rendah karbohidrat telah menyebabkan perubahan dalam tingkat kandungan lemak daam darah yang diperkirakan akan mendorong penurunan resiko penyakit kardiovaskuler.

Saya tertarik membaca sebuah studi yang dipublikasikan baru-baru ini yang meneliti bukti-bukti mengenai hal tersebut [1]. Tiga belas studi yang membandingkan diet rendah karbohidrat dengan diet rendah lemak juga termasuk dalam review ini, dan masing-ma-sing studi berakhir kurang lebih 6 bulan. Satu batasan dari studi ini adalah bahwa pengaturan diet rendah karbohidrat dalam satu studi kadang-kadang mengenalkan kembali sejumlah penting karbohidrat.

Disamping itu, hasil studi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan diet rendah lemak, diet rendah karbohidrat umumnya menghasilkan sesuatu yang menguntungkan, termasuk penurunan berat badan yang signifikan setelah 6 hingga 12 bulan (secara berurutan sekitar 4 sampai 1 kg), secara mantap menurunkan kadar triglyceride, dan secara drastis meningkatkan kadar kolesterol “baik” HDL.

Diet rendah karbohidrat juga memiliki tingkat peluruhan yang lebih rendah, ini berdasarkan kasus seseorang yang secara ketat diet rendah lemak dibandingkan dengan mereka yang mengontrol karbohidratnya. Ini penting mengingat pemenuhan kebutuhan akan diperlukan jika memilih diet manapun.

Review ini mendapatkan hasil yang bagus dalam menilai manfaat antara mengonsumsi makanan rendah karbohidrat dan rendah lemak. Dan ini menunjukkan, sekali lagi, pada umumnya penemuan terdahulu cenderung bertujuan menurunkan berat badan dan mengambil keuntungan besar dalam hal faktor resiko kardiovaskuler juga. (tnm/feb)

Tinggalkan Balasan