Setelah 10 tahun menikah, Nori baru dikarunia anak pertama. Selama itu dia melakukan pemeriksaan, dan ternyata dia mengidap kista di saluran indung telurnya. Setelah dioperasi, barulah dia bisa hamil.
Dia melahirkan anak pertamanya pada usia 35 tahun dan setahun kemudian anak keduanyapun lahir.
Di Jakarta, tidak hanya nori sendiri yang punya kesulitan keturunan. Menurut satu penelitian, 10% - 15% dari pasangan usia subur mengalami infertilitas (kurang subur) yang penyebabnya bisa dari laki-laki, wanita, keduanya atau sebab yang tidak diketahui.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50 juta hingga 80 juta pasangan usia subur memilki kesulitan mendapatkan keturunan.
Menurut dokter spesialis kandungan Indra N.C Anwar, dari Klinik Teratai RS Gading Pluit seseorang dinyatakan kurang subur jika dalam satu tahun pernikahan pasangan usia produktif (dibawah 35 tahun) secara teratur berhubungan suami istri tanpa alat kontrasepsi tetapi belum hamil juga.
Jika usia pasutri sudah diatas 35 tahun dan dalam tiga bulan pertama setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi, masih belum hamil juga. Segeralah melakukan pemeriksaan ke ahli fertilitas.
Berdasarkan data, katanya infertilitas karena faktor istri mencakup 45%, meliputi masalah pada saluran telur 40%, ovulasi 15%-25%, paritenium / endometriosis 25%, mulut rahim 5%, dan rahim 5%.
Infertilitas karena faktor suami sekitar 40%, meliputi kelainan pengeluran sperma 3%, kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan 6%, faktor imunologik / antibody, antisperma 2,9%, faktor gizi dan faktor yang tidak terjelaskan 10% – 15%.
Gaya hidup.
Diantara berbagai penyebab sulitnya pasangan suami-istri mendapatkan keturunan ternyata gaya hidup memegang peranan penting dalam menyumbang angka kejadian infertilitas, yaitu sebesar 15 – 20%.
Gaya hidup yang serbacepat dan kompetitif, serta pasangan yang keduanya bekerja membuat mereka rentan akan stress. Kondisi jiwa yang stress bisa menyebabkan gangguan ovulasi, spermatologinesisi, spasme tuba falopi, disfungsi seksual.
Faktor lainnya adalah malnutrisi, kegemukan atau sebaliknya kanker dan terapinya, merokok, konsumsi kafein berlebihan, konsumsi alcohol dan obat-obatan serta faktor usia.
Konsumsi alcohol pada wanita, misalnya akan menekan produksi hormone estrogen dan progesterone serta meningkatnya prolaktin. Hal itu akan menghambat terjadinya proses ovulasi.
Pada pria, alcohol akan menyebabkan penurunan ukuran testis, menurunkan volume semen (air mani), dan menurunkan konsentrasi, mobilitas serta morfologi normal dari spermatozoa.
Olah raga berlebihan bia menyebabkan seorang wanita menjadi sulit hamil karena menganggu siklus haid berupa pemendekan siklus luteal dan amenorrhea sekunder.
Meskipun demikian masih belum jelas mengapa olahraga berlebihan membuat wanita sulit hamil, Namun, hal itu diduga karena penurunan produksi gonadotropin, peningkatan produksi endirfin dan kartisol.
Indra menambahkan tren menunda perkawinan demi alas an mengejar karier yang marak belakangan ini juga menjadi salah satu penyebab sulitnya suami istri mendapatkan buah hati.
Pada wanita kesuburan akan menurun sesuai pertambahan umur. Mulai usia 35 tahun, kesuburan kan menurun drastic pada usia diatas 37 tahun hingga akhirnya masuk ke periode menopause diatas 40-45 tahun.
“Hal ini terjadi karena cadangan sel telur akan terus berkurang setiap wanita mengalami menstruasi dan lama-kelamaan akan habis sehingga terjadilah masa menopause dimana ovarium berhenti mengeluarkan sel telur,” katanya.
Usia pada pria tidak dapat membatasi tingkat kesuburan. Perempuan memiliki gudang telur yang suatu saat akan habis, sedangkan pria memiliki pabrik sperma yang terus diproduksi tiap hari selama anatominya norma.
Untuk mengatasi infertilitas, Indra menyarankan agar pasangan suami istri segera memeriksakan diri ke dokter. Jika sudah diketahui penyebab infertilitas, segera lakukan pengobatan yang disarankan dokter.
Pada prinsipnya penanganan infertilitas ada dua macam, yaitu pengobatan konvensional dan teknologi reproduksi tertentu. Pengobatan konvensional antara lain dengan menghilangkan faktor penyebab, memicu produksi sperma, memperbaiki pematangan sperma, memperbaiki transport sel, dan mencegah kerusakan sel sperma.
Untuk gangguan kesuburan akibat kerusakan atau kelainan anatomi di saluran telur bisa ditangani dengan operasi dan menunggu dalam jangka 18-24 bulan. Jika gagal, bisa dicoba dengan teknik reproduksi bantuan baik melalui inseminasi maupun bayi tabung.
Menurut indra, faktor pendukung yang membuat keberhasilan dari program bayi tabung antara lain faktor usia istri. Semakin muda usia istri, semakin besar kemungkinan keberhasilannya, karena kemampuan wanita untuk hamil paling tinggi pada usia 24 tahun, kemudian menurun pada usia 25 tahun dan menurun drastic pada usia 35 tahun.
“Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur di dalam indung telur terkait dengan pertambahan usia yang akan mempengaruhi kesuburan dan meningkatkan resiko pada janin,” katanya
DIarsipkan di bawah: Artikel, Jendela Keluarga, Kesehatan



















































