Sedikitnya 1,74 juta orang dewasa di Indonesia mengalami gangguan mental emosional. “Gangguan jiwa yang dimaksud di sini dari tingkat yang paling
ringan seperti stres, depresi, dan gangguan kecemasan sampai tingkat yang berat,” kata Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Hussain saat membuka seminar tentang kesehatan jiwa di Jakarta, Rabu (14/10).
Besaran masalah yang antara lain disebabkan oleh gangguan biologis dan kegagalan beradaptasi dengan perubahan psikososial itu, dia melanjutkan, juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
“Itu antara lain bisa kita lihat dari banyaknya kasus penyalahgunaan narkotik, perceraian, bunuh diri, tawuran antarpelajar serta konflik antarwarga dengan latar belakang suku, ras dan antargolongan yang ditayangkan di media elektronik maupun cetak,” katanya.
Kondisi yang demikian, akan menghambat jalannya pembangunan karena masalah kesehatan jiwa dapat menurunkan produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat.
Oleh karena itu, menurut ahli jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Albert Maramis, penanganan masalah kesehatan jiwa harus dijadikan sebagai prioritas global dan bagian integral dari pembangunan aspek kesehatan.
Integrasi penanganan masalah kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan antara lain bisa dilakukan dengan menyatukan pelayanan kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan dasar atau primer.
“Ini penting karena beban akibat gangguan jiwa besar. Masalah kesehatan jiwa dan fisik juga saling bertautan. Dan sampai saat ini kesenjangan ketersediaan pelayanan kesehatan jiwa masih besar,” katanya.
Pelayanan kesehatan primer untuk kesehatan jiwa, kata dia, akan meningkatkan keterjangkauan masyarakat serta mencegah stigmatisasi dan diskriminasi terhadap penderita gangguan jiwa beserta keluarga mereka.
Ia menambahkan, biaya pelayanan kesehatan jiwa pada sarana kesehatan dasar seperti Puskesmas juga lebih murah dibanding pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa. “Pelayanan primer untuk kesehatan jiwa juga menghasilkan keluaran yang baik,” katanya. (kompas.com)
BACA BERITA TERKAIT LAINNYA :
Orang Beragama lebih tenang hadapi stress
DIarsipkan di bawah: Berbagi Cahaya, Hot - News, Lentera Hati




















































Memang ia mas bagaimana tidak stress wong mikirin bayar air PDAM, lampu listrik yg semakin melonjak ditambah lagi dengan hawa/energi negatif yang mulai berdatangan dari alam sebelah/ghaib, padahal kita hidup pada daerah yg kuaaaayaa ruuuuuuuaaaaaaayyyyyyyyaaaaa yaitu indonesia namun apa buktinya eh malah yang lahir manusia indigo yang pandai korupsi, “KORUPTOR INDIGO” Yaitu tadi mas doakan saja supaya semua cepat berakhi r pada hari “hajar aswad” pada hari ibu biar kita sama-sama pulang kepangkuan ibu pertiwi yaitu 22 desember 2012, bagaiman dunia tidak akan kiamat disana sini terjadi maksiat, mungkin alalah akan meneruskan dengan generasi yang baru seperti umat umat yg telah dibinasakn dulu, karena ketimpangan kehidupan ini,